Jumat, 04 Juli 2014

SUMPAH

Kamu boleh menunggu terlalu lama, tapi jangan gunakan sumpahmu untuk menungguku sampai mati. Aku tersiksa pada dirimu yang menantiku. Bukan bibirmu yang mengatakan akan menungguku, tapi matamu jelas berkata-kata seperti itu. Penantianmu sampai mati, jelas itu yang benar-benar kau mau. Aku menyesalinya, untuk sekedar kau tahu. Aku menyesali sumpah lamaku. Sumpah bahwa aku tidak akan pernah menikah seumur hidupku, dan akan mati diwaktu disaat apa yang aku aku inginkan tercapai sudah. Sayangnya, sumpah itu ada sebelum akhirnya aku bertemu denganmu, dengan mata yang bersumpah akan menungguku diakhir hidupmu sebelum memejamkan mata dan benar-benar pergi. Tidak ada daya lagi untuk membangunkanmu. Aku bukan Tuhan. Aku hanya Bhisma. Aku bersumpah menyesali semua sumpahku. Kalau saja waktu itu tidak bertemu dengan kamu, kalau saja saat itu kau tidak bersujud memohon-mohon padaku, dan kalau saja benda tajam itu tidak tertarik begitu saja menghabisi nyawamu dalam hitungan detik, semuanya pasti berbeda. Ribuan maaf macam apa yang bisa aku ungkapkan? Sedangkan sumpah selalu menjadi tembok kuat untuk bertahan. Kumohon, tenanglah kau disana, lupakan sumpahmu. Aku tersiksa sekaligus kehilangan. Butuh berapa lama agar aku ikut mati dan bertemu dengan kamu? Sumpahku masih bertengger kuat disana. Aku mohon Amba. Sumpah dalam tatap mata adalah penyiksaan terberatku. Tenanglah disana. Atau, tunggulah aku disana tanpa harus menghitung waktu.

( Terinspirasi oleh cerita wayang Bhisma dan Amba dalam kisah Mahabharata )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar