Tampilkan postingan dengan label Saat diam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saat diam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juli 2017

Menyapa Arjuna

HAI ARJUNA,
Aku menyapamu sekali lagi,
Tidak akan berlama-lama kali ini,
Karena ini untuk terakhir kali,
Setelah berlama-lama menyadari

Mungkin aku bukan Srikandi,
Dan kau bukan Arjuna,
Tapi biarlah kita terkenang,
Bahwa kita pernah mengaku wayang.

Biarkan masa lalu berlalu,
Setidaknya aku tau,
Mungkin kita tiada lagi kan menyatu,
Semoga hilang rasa rindu dan sendu.

Biar kini terakhir aku menyapamu,
Sebagai Arjuna yang lalu,
Yang esoknya kau kan berganti,
Tiada lagi menjadi Arjuna yang kunanti.


Sungguh aku sudah menyadari.
Meski dalam sekali masih ada harap.
Semoga kita tahu,
atau sama-sama menyadari,

kemana akhirnya langkah ini?

Rabu, 10 Juni 2015

Mengapa Merah itu Marah

Apalagi yang terucap selain merah,
Selain rasa yang membara,
Atau keinginan terlampau tinggi,
Yang meronta ingin didengar.
Mereka bilang itu cinta,
Yang terungkap seperti marah.

Ada merah yang merana,
Tersipu pada mata saling terpadu,
Terbuai seperti hangat rembulan,
Rasanya bagai didekap rindu,
Hanya mengapa begitu lama merana,
Begitu sunyi dalam semu,
Sedang api itu membara terlalu dalam.

Selalu ada nyala pada merah,
Ingin berbangga pada api merah merona,
Terlampau kuat dalam mimpi meraih merah,
Sampai lupa sudah menjadi merah,
Apa itu marah pada merah api,
Seringkali terlewat pada kelembutan merah,
Kenapa merah itu marah,

Kalau membaranya untuk si merah delima.

Sabtu, 21 Februari 2015

Nantinya Kamu akan Tertawa

Nantinya pasti kamu akan tertawa,
bahwa masa lalu hanya sebuah cerita,
untuk sekedar di kenang,
untuk sekedar dipahami,
karena nyatanya hanya sepenggalan kisah lama.

Akan ada tawa renyahmu yang berpangku heran,
betapa ketidakberdayaanmu begitu melelahkan,
seolah menyudutkan pada sisi tergelap,
meninggalkanmu seperti si kesepian yang merana,
walau sebenarnya hanya risauan tanpa makna.

Biarkanlah kesedihan menjadi abu di tiup angin,
ketika rindu sudah seharusnya dihempaskan,
buat apa lagi meratapi,
nantinya kamu akan tertawa,
mengingat bahwa kamu pernah merana.

Lagi-lagi kamu akan tertawa,
sadar bahwa hidup penuh warna,
bahwa luka butuh obat begitu lama,
karena sudah terlalu lama diam,
terlampau jauh mendendam.

Kamu hanya lupa makna,
tidak sadar pada rasa,
selalu merasa lelah,
terselimuti  perasaan resah,
nantinya toh kamu akan tertawa.






Jumat, 16 Januari 2015

'KARNA'



Ia biasa di sebut sebagai ‘Karna’.
Kalau kau tanya apa yang ia suka,
Maka ia akan jawab dengan hening.
Ia selalu suka apa yang kau bicarakan.

Tidak pernah mengeluh untuk sekedar mencermati,
Mendengarkan tanpa perlu pakai hati,
Tanpa pernah mengeluh atau pun merasa lelah,
Selalu siap kapan pun kau mau bicara.

Segala kesedihan, kebahagiaan, risau, galau, rindu,
Dan semacam pembicaraan apa pun tetap ia di situ.
Tidak pernah pergi kemana-mana,
Bahkan kau sebut dalam hati pun ia sudah ‘ada’.

Jangan tanya tentang “kesabaran”,
Karena nantinya malah kau diberikan cermin.
Cukup bicara apa pun yang kau ingin.
Ia kan tetap ada walau dalam diam.

Sampai nafasmu megap-megap ia akan tetap ada,
Mendengarkanmu.
Sekedar mengetahui bisikanmu yang kelelahan setengah mati,
Menjadi yang tak pernah bisa bicara untukmu.

Kau tau ‘Karna’?
Dalam pewayangan ia adalah anak Kunti.
Kau tau?
Ia seringkali diartikan sebagai ‘telinga’,

Karena dilahirkan melalui telinga.

Senin, 12 Januari 2015

Coba Kau Curahkan...

Coba kau curahkan apa yang tertanam itu,
Jadikan itu amarah,
Apa kau nantinya akan puas?
Apa kau nantinya akan berteriak senang?
Nyatanya kau malah semakin terpuruk.

Kau tidak mau jatuh,
Tapi kenyataan membuatmu harus terjatuh,
Terombang ambing dalam air keruh,
Bukan sinar lagi yang kau cari,
Melainkan bayanganmu.

Awalnya kau sudah terbang begitu tinggi,
Tapi kau jelas hanya layang-layang.
Kau punya batasan,
Kau punya tali yang akan segera menarikmu kembali,
Kau kesal setengah mati.

Akhirnya kau menyerah,
Mendalami lautan tanpa peduli apapun,
Kau hanya ingin terbawa arus,
Hilang dari peradaban,
Walau nyatanya kau malah kembali pada daratan.

Kau berteriak marah,
Memaki-maki pada pantulan cermin,
Lalu begitu saja kau telentangkan tubuh,
Membiarkannya mati kekeringan,
Tapi nyatanya kau tetap hidup.

Lalu kau terisak,
Entah ingin menangisi apalagi,
Yang kau tau cuma diam,
untuk tetap bertahan,
dalam bisu terlampau sunyi

Selasa, 06 Januari 2015

'DIA'

Waktu tidak akan pernah cukup untuk mengenal siapa Dia. Semua orang tau hanya dari apa yang terlihat dan namanya memang “Dia”. Wajahnya bisa kau bayangkan sendiri, rupanya, tinggi badannya, postur tubuhnya, atau cara marah dan tertawanya bisa kau lihat sendiri saat melihatnya. Dia senang sekali berputar-putar mengarungi waktu, bersenang-senang atau bahkan menangis tersedu-sedu yang seringnya berada dalam gelapnya sepi. Dia benci sekali dengan tatapan-tatapan orang yang memandangnya dengan remeh, walaupun kenyataannya Dia merasa pantas sekali diremehkan. Sering merasa seperti orang ‘cemen’ yang tidak mampu bertindak apa-apa dan kerjaannya hanya diam. Terkadang kagum pada dirinya yang bisa membuat bangga orang-orang terdekatnya. Rasanya selalu ingin bisa menjadi yang dapat diandalkan, tapi kemampuan dan kepercayaan diri malah lebih mampu membuat langkahnya mundur. Walaupun tidak sedikit pula Dia mampu menunjukan kehebatannya, tapi nyaris tidak pernah percaya bahwa ‘hebat’ jelas ada dan tertanam dalam dirinya.

Menatapi cermin adalah hobinya yang paling rutin dilakukan, menyisir, atau sekedar merapihkan apa yang terlihat dan dirasa kurang berkenan. Lagi-lagi dia kesal sekali dengan tatapan-tatapan itu, karena hanya karena merasa perlu menjaga tatapan-tatapan mereka Dia menjadi harus menata dan berkaca terus menerus. Rasanya menyedihkan menghabiskan sebagian besar hidup dengan berkaca, tapi di satu sisi Dia sadar bahwa dengan menatap cermin akan terlihat mana yang harus di rubah atau bahkan dirapihkan. Lelah, ribuan kali bergumam, berteriak, menangis, atau tertawa di atas kata lelah sama sekali tidak menjadi penghalang hidup. Nyatanya Dia masih tetap hidup di atas kelelahan, dan terus menerus berhadapan dengan cermin di setiap sudut jalan yang di lewatinya, bisa di gedung-gedung tinggi, toko-toko pinggir jalan, bioskop, dan paling banyak jelas di kamar mandi.

Ada saat Dia merasa bertemu dengan seseorang yang penting dalam hidupnya, yang mampu menggenggam dengan kehangatan dan kesejukan samudra dalam deburan ombaknya. Rasanya begitu tenang. Dia mulai sering merasa takut kehilangan, seolah dengan tangan itu cermin bisa menjadi nomor dua, dan hatinya tidak pernah berhenti berdebar walau hanya sekedar duduk berdua. Rasa yang membuatnya mampu terbang dalam kebahagiaan dan menggigil karena sesenggukan dari tangis rindu, kecewa, dan amarah. Seolah ada kesempurnaan karena merasa lengkap, walaupun pada kenyataannya tetap ada sisi ketakutan-ketakutan karena rasa ‘hilang’,dan itu tidak selalu benar-benar terlihat. Dia hanya sedang jatuh cinta.


Jangan pernah bertanya sekalipun apa yang sebenarnya Dia inginkan, karena kau akan kelelahan mendengar begitu banyak mimpi, dan kenyataan bahwa begitu banyak yang tidak terwujud. Cukup kau, mereka, dan kalian yang selalu menemani Dia dalam hidupnya, itu adalah harapan paling besarnya yang tersembunyi dalam sunyi. Dia bukan pujangga yang mampu menciptakan kata-kata dengan bibirnya, tapi tulisannya jelas mengungkapkan semuanya. Kalau ditanya sifat yang paling mencolok dari dirinya maka kau akan temukan tanpa harus mendengar dari bibirnya. Dia sangat keras kepala. Tolong temani orang bernama Dia itu, walaupun ada tawa dan senyum, jelas Dia selalu merasa kesepian. 

Siapa Dia? coba ambil cermin:P

Rabu, 17 Desember 2014

Mungkin Kamu Juga Pernah Lupa

Mungkin kamu juga pernah lupa,
Sehingga bukan saatnya lagi kamu marah-marah karena di lupakan.

Mungkin kamu juga pernah lupa,
Jadinya bukan butuh waktu lagi untuk diingat.

Mungkin kamu juga pernah lupa,
Dan memang seharusnya membiarkan mereka bersenang-senang.

Mungkin kamu juga pernah lupa,
Lalu di biarkan begitu saja mereka hidup dengan ingatan yang ada.

Mungkin kamu juga pernah lupa,
Seharusnya dari dulu kamu menatap cermin itu lamat-lamat.

Kamu terlalu sering lupa,
Tidak ada alasan lagi untuk menuntut apa pun.

Kamu terlalu sering lupa,
Memang sudah saatnya sadar diri.

Kamu hanya pelupa,
Mau menyalahkan siapa?

Rabu, 03 Desember 2014

Salah Paham ( Subali dan Sugriwa )

Subali dan Sugriwa


Namanya juga hidup, pasti pernah salah paham.

aku belajar dari tahta yang sering mereka banggakan,
sering melihat betapa rasanya indah memiliki tahta,
betapa kekuasaan menjadi keutuhan yang sempurna,
tapi tahta jelas seringkali menutup mata.

aku lihat dua orang itu,
Subali dan Sugriwa.
terkenal hebat dan sayang satu sama lain,
tapi 'sayang' itu hanya ada dulu sekali.

tahta menutup mata,
walau sebenarnya hanya salah paham.
tapi siapa yang mau tahu?
Subali pun tidak mau.

Sugriwa merasa memiliki tahta,
karena merasa Subali sudah pergi dari dunia,
tapi apa daya,
Subali datang langsung marah-marah.

harusnya ada penjelasan,
tapi terbutakan karena dipikir haus tahta,
jadi rasanya semua percuma,
yang ada malah perselisihan.

ribuan lelah menyeru dihati, 
sebenarnya ada rindu tentang damainya masa lalu,
tapi apa mau dikata,
'tahta' sudah menjadi topik utama.

lalu Subali mati,
meninggalkan sesal,
mengeluh betapa selama ini ia buta,
dan tersadar menjelang kematian.

Dan sekarang aku tahu...

hidup adalah hidup,
salah paham selalu menyelundup,
tapi kenapa harus sekarat dulu?
lagi-lagi cuma masa lalu.


Terinspirasi dari kisah Subali dan Sugriwa dalam kisah Ramayana

Aku merasa...

aku merasa... bahwa sebenarnya apa yang aku lakukan seringkali salah, aku melangkah pada hal yang aku kira adalah yang kusukai dan mampu aku jalani. Tapi, rasanya malah jadi berat karena beban hidup nyatanya masih akan ada mau tidak mau. Pertaruhan selalu menjelma menjadi keinginan dan kebencian, dan aku terbuai pada rasa keras kepala yang bahkan aku sendiri sulit membedakan apa itu mimpi dan obsesi.

aku merasa... menulis adalah cara paling mudah berekspresi, walau nyatanya masih banyak yang belum memahami. Tulisan-tulisan itu belum tentu selalu bisa selalu mewakili, tapi yang paling mampu membantu mencurahkan walaupun jadinya hanya tulisan cakar ayam tidak terbaca.

aku merasa... ada yang salah dalam pemikiran dan ideologi yang aku punya. Ternyata aku terlalu lama terlelap pada kisah yang aku pikir semua orang bisa dapatkan.

aku merasa... buat apa keramaian ada, kalau ternyata yang dirasa tetap rasa sepi. Mereka bisa asik tertawa, menunjukan betapa eksisnya mereka dalam kehidupan, sedangkan aku hanya mampu tertawa melihat diri sendiri yang mungkin lebih baik 'hilang' saja.

aku merasa... bahwa pertemanan akan sangat membantu dan menjadikan hidup lebih dari sekedar kata 'ramai'. Teman seolah menjadi kebutuhan, yang kalau tidak punya maka kau akan kesepian. Walaupun ternyata, terkadang beberapa teman adalah hal yang paling kau tidak sadari, yang ternyata harus kau 'lepas' dan buang jauh-jauh. 

aku merasa... rindu itu hal yang paling ingin aku hindari. Betapa rasanya hanya seorang diri yang merindu, sedang mereka asik menghabiskan waktu.

aku merasa... betapa topeng adalah hal yang paling pantas aku kenakan sekarang. Bukan menjadikan pura-pura baik, tapi pura-pura bahagia.

aku merasa... memang semua ada waktunya. Terlalu lama berkeiginan, terlalu lama bersenang-senang, terlalu lama hidup dalam ramai, terlalu lama merasa rindu, dan terlalu lama tidak menyadari kalau waktu akan berjalan, sehingga sekarang aku 'kesepian' melihat betapa sudah begitu lama aku tidak bercermin.

Rabu, 12 November 2014

Kau Hanya Butuh Satu Pelukan

Kamu hanya butuh diberi pelukan,
Ketika semua rasa membeludak menjadi amarah.
Ketika waktu begitu cepat berlari,
Sedang kamu terlelap pada langkah lambat-lambat.
Terlalu banyak beban yang kau rasa begitu memberatkan,
Walau nyatanya satu pelukan mampu membuka matamu,
Mengakui diri bahwa sebenarnya kamu tidak sendiri.

Kau bilang kau menanam rindu,
Yang sering kau maki karena tumbuh subur,
Padahal tidak pernah sekalipun kau beri air.
Dan sungguh  kau hanya butuh satu pelukan,
Untuk sekedar bersandar,
Walau akhirnya yang keluar adalah nangis meranamu.
Sesenggukanmu yang paling dalam.

Lalu kemudian kau menggumamkan lelah,
Membenci jalan yang sudah lama kau tapaki,
Memendam dendam pada diri sendiri,
Kau kesal setengah mati.
Tapi kemudian satu pelukan itu datang.
Mendadak kau lunglai tanpa daya,
Merasa hangat.

Sungguh, kau hanya butuh satu pelukan.
Untuk sekedar membungkam semua rasa ‘tidak terima’.

Jumat, 10 Oktober 2014

Aku Ingin Bicara

Aku Ingin Bicara. Mengenang betapa sinar rembulan bisa begitu indah, dan betapa besar keinginan aku untuk dapat berjalan seolah-olah merasa bahwa setiap langkah yang aku tapaki adalah rasa kagum pada gemerlap dimalam hari.

Aku ingin bicara. Matahari dipagi hari adalah kehangatan yang selalu ingin aku rasakan, selalu ingin aku genggam untuk tidak pernah pergi buru-buru.

Aku ingin bicara. Sungguh betapa besar rasa iri ingin bisa seperti mereka. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain memang melelahkan, tapi aku ingin setidaknya mendapat suatu ‘semangat’ yang mereka miliki.

Aku ingin bicara. Kalau saja rasa percaya diri bisa dengan mudah dibeli, aku akan beli.

Aku ingin bicara. Ada gumpalan rasa kagum yang membuat aku begitu bergairah saat mereka bisa begitu percaya padaku.

Aku ingin bicara. Sungguh, aku benci cara mereka.

Aku ingin bicara. Mencintai karya sastra adalah keindahan penuh makna yang mendera seperti butiran-butiran Kristal dalam darahku.

Aku ingin bicara. Memberitahu bahwa itu sebenarnya salah, dan aku jelas punya kebenaran yang bisa aku tunjukan.

Aku ingin berbicara. Mengomentari perkataan-perkataan itu, mencari solusi, memberi solusi, dan mendapatkan jawaban dari apa yang aku komentari.

Aku ingin bicara. Mengeluarkan hak untuk berpendapat.

Aku ingin bicara. Rasa ini sungguh sedang tidak asik.

Aku ingin bicara. Memuji dengan tulus dan memberikan suatu kepuasan pada apa yang dia/mereka buat atau pikirkan.

Aku ingin bicara. Merayu untuk membantuku mencapai keinginan.

Aku ingin bicara. Aku begitu mencintaimu.

Aku ingin bicara. Ada desakan kerinduan yang begitu menggejolak.

Aku ingin bicara. Bibirku tidak pernah bisa benar-benar bergerak.


Aku ingin bicara. 

Minggu, 07 September 2014

MENYANGKAL



Siapa yang mau tahu. Siapa yang tidak mau tahu. Siapa yang sadar. Siapa yang tidak sadar.

Anggap saja ada yang menyentil, tapi sebenarnya kamu tidak peduli atau pura-pura tidak paham arti sentilan itu. Memutar-mutar kata dan mencoba menjadikannya tidak tampak dan bergelut pada blablabla yang kamu anggak ‘ah apa sih’. Seribu cara untuk berlari dalam pengungkapan, menyerang pada diri menggunakan logika ketidakmungkinan. Anggap saja semuanya basi, anggap saja semuanya nihil, dan anggap saja semuanya hanya tang ting tung. Kamu menyangkal.

Lalu kemudian ada yang datang, bertanya kepastian, bertanya ada apa tentang ‘itu’. Sedikit terdiam, tapi hidup terlalu membuatmu pintar untuk mengalihkan pembicaraan. Mereka terkecoh, tapi kamu mengecohkan diri sendiri. Ada senyum bangga yang menunjukan betapa hebat pengalaman yang memampukanmu menolak semua pemikiran, menolak bicara lebih terbuka, dan menolak dirimu sendiri. Bermain-main pada kata-kata yang kau yakini akan menipu mereka? Atau sebenarnya untuk menipu dirimu sendiri? Kau tertawa sambil menggelengkan kepala. Percaya tidak percaya, kemudian kau akan berdiri pada sudut gelap itu. Setelah hari itu.

Baiklah, anggap saja semua akan berlalu secepat yang kamu yakini. Hidup akan kembali normal dan jauh dari apa yang kamu anggap tidak ada itu. Kamu akan bersenang-senang, akan menyapa dengan riang, dan akan tersenyum pada pagi. Akan ada nafas baru yang membuatmu percaya bahwa hidup barumu telah tiba dan siap menyambut. Bersorak riang, dan kemudian berpesta pada malam. Lalu… lalu… kamu lupa bahwa malam adalah waktu tenang, bukan seharusnya untuk bersenang-senang. Sedikit ‘klik’ saat akhirnya kamu sadar tidak seharunya berpesta diwaktu malam. Dan kemudian terdiam, ketika tampak di keramaian malam itu datang sesuatu yang seharusnya kamu hadapi saat tidur. Menyergap. Kemudian kamu megap-megap.

Mendadak pertanyaan-pertanyaan dimasa lampau menyerbu. Kamu memaki sekeras mungkin dan tidak mau alasan lagi. Kamu butuh tempat kosong, tapi tidak menemukannya secepat yang kau mau. Ada kemarahan memeluk jiwa, menjadikanmu terhenyuk seketika. Ah, kamu mengeluh dengan kesal. Lagi-lagi bermain hanya pada kata ‘tidak mungkin’, ‘tidak percaya’, dan ‘apa-apaan ini’. Setelah itu menepi pada malam-malam berkepanjangan, mengikuti sinar seadanya yang kamu pikir akan menunjukan jalan yang selama ini kamu anggap tidak ada. Kamu melihat ‘itu’ tapi tidak mau berjalan kesitu. Mendadak kamu menggigil. Kamu lari tanpa jeda.

“ Hobimu apa sih? “
“ Mencari cahaya.”
“ Untuk hidup? “
“ Ya ”
“ Sudah kamu temukan? “
“ Belum “
“ Ah, kamu menyangkal “
“ Hahahaha.”
“ Hahahaha.”


BASI.

Jumat, 05 September 2014

Menemukan



Kamu pasti menemukan aku. Tidak pernah jauh-jauh aku pergi, dan tidak bermaksud apa-apa. Hanya berlari-lari kecil yang tadinya aku harap bisa membuatku sedikit bernafas. Bukankah sebelumnya kau sering bertanya, kemana aku akan pergi ketika aku ingin menjadi si penikmat diam? Seharusnya kau tidak perlu bertanya, karena aku tau kau akan menemukan jalan ke tempatku. Sebenarnya ini terlalu mudah, dan aku bukan ingin bermain teka-teki. Nyatanya aku hanya ingin ditemukan, tidak berpura-pura berlari karena aku memang suka berlari. Salahnya, aku sering tidak sadar ingin lari kemana tapi ternyata hanya ke tempat itu-itu saja. Bukankah seharusnya itu hal yang mudah? Dalam pedoman hidupmu, jauh dari kata ‘sulit’ bukan? Maka kau pasti akan bisa dan tentu saja menemukan aku.

Rasanya indah sekali menjadi yang ditemukan, seolah akhirnya aku juga menemukan orang yang mau membawaku pulang. Karena ketika aku menikmati diam, aku tidak pernah sekalipun peduli pada langkah yang aku ambil. Aku kesana kemari, lalu terduduk, lalu kesana, lalu entah kemana lagi. Kau sering menggelengkan kepalamu ketika menemukan aku, ada kata lelah disitu dan kemudian kau hanya ikut terduduk disampingku. Aku mau pulang saat itu juga, kau tertawa gemas seolah betapa teganya aku tidak membiarkan jeda untuk istirahat. Aku mana sempat terfikir kesitu, yang aku tau akan ada yang membawaku pulang. Aku mau pulang. Lama berlari, melangkah, dan pergi kesana kemari membuatku ingin segera pulang. Lalu kau beranjak, kemudian mengulurkan tangan meraih jariku. “ Mari pulang,” katamu kemudian menggandeng lenganku dan membawanya pulang. Akhirnya aku pulang.

Berkali-kali kau marah karena aku sering pergi begitu saja, tidak pernah mau menetap pada satu tempat pada waktu yang lama. Aku nyengir. Kau menggerutu. Aku tertawa kecil. Kau ngomel besar. Aku diam. Kau meraih lenganku dan menariku didalam pelukanmu. Disitu kau berbisik betapa lelahnya mencariku yang sering menghilang, dan betapa kau begitu mempertanyakan mengapa bisa begitu mudahnya aku melangkah pergi, berlari. Aku diam. Ada helaan nafas seolah kau coba mengerti, lalu begitu saja melepaskanku. Aku pergi. Berlari-lari bersama diam yang kini adalah penghangatku. Kau diam saja tanpa mengejar. Aku berlari semakin jauh, tidak peduli bagaimana nanti aku akan kehabisan nafas. Anggap saja aku lupa rasanya bernafas. Aku berlari, terduduk lagi, dan lalu berlari lagi.

Nanti, kalau lelah datang aku tidak perlu takut karena kamu akan datang. Menemukanku lagi. Mengantarku pulang.
Kalau ternyata tidak datang?

Baiklah, anggap saja aku punah. Selesai.

Minggu, 06 Juli 2014

SUMPAH (II)



Lesmana



Aku bersumpah, dan itu akan memperkuatku untuk tidak melanggarnya. Hidup adalah tentang kepercayaan. Sumpahku adalah pendirianku, yang nantinya akan mendarah daging dalam tubuh dan aliran darahku. Percaya atau tidak, ini hanya masalah waktu. Aku benci bersumpah, tapi aku harus melakukannya. Mendapatkan kepercayaan adalah suatu kebutuhan dalam hidup, dan itu adalah yang seringkali mengekalkan untuk melupakan keinginan manusia, khususnya pria seperti seperti aku. Hal kecil membuatku harus bersumpah, demi hilangnya suatu prasangka yang buruk. Jangan kau bertanya lagi duhai Sinta, aku sudah bersumpah. Jangan lagi kau menangisi apa yang baru aku ikrarkan. Ketidakpercayaanmu membuatku dirundung ketakutan pada hidup. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadinya nantinya. Sumpah ini adalah bukti nyataku dari bibir yang terucap, yang nantinya akan menahanku pada masa depan yang sama sekali tidak ku ketahui. Sumpah adalah ikatan yang seharusnya tidak boleh terputus, dan oleh karena itu aku bersumpah. Mereka boleh berduka, atau kau juga ikut berduka, tapi hatiku jelas lebih berduka. Lidah sudah bersuara, bumi sudah mendengarkan, dan Sang Pencipta sudah mencatat. Biar sumpah ini memendam dalam seluruh jiwa dan raga. Sampai matipun aku akan tetap bertahan pada sumpah ini. Pada sumpah yang aku tau artinya adalah kesepian. Aku tidak akan pernah tau masa depan, tapi aku akan selalu tau sumpahku. Kalau nanti aku melanggar, sungguh hanya biarkan sang Pencipta yang menghukumku. Jangan kau tatapi aku dengan rasa menyesalmu, duhai Sinta. Melihatmu yang panik saat itu, melihat ucapan ketidakpercayaanmu, melihat bahwa seorang titisan sang Dewi begitu ragu pada amanah perlindungan yang harus kuberikan, maka dari situlah aku bersumpah. Aku tidak akan pernah menikah. Bukan karenamu, tapi karena tatapan matamu yang walaupun dalam sekejap tapi begitu terlihat. Kau tidak benar-benar percaya padaku. Aku sudah bersumpah. Kini,  biarkan aku yang nantinya akan terhanyut dalam perang besar yang selalu diderai rasa sepi.

( Terinspirasi dari  sumpah Lesmana untuk Sinta )

Jumat, 04 Juli 2014

SUMPAH

Kamu boleh menunggu terlalu lama, tapi jangan gunakan sumpahmu untuk menungguku sampai mati. Aku tersiksa pada dirimu yang menantiku. Bukan bibirmu yang mengatakan akan menungguku, tapi matamu jelas berkata-kata seperti itu. Penantianmu sampai mati, jelas itu yang benar-benar kau mau. Aku menyesalinya, untuk sekedar kau tahu. Aku menyesali sumpah lamaku. Sumpah bahwa aku tidak akan pernah menikah seumur hidupku, dan akan mati diwaktu disaat apa yang aku aku inginkan tercapai sudah. Sayangnya, sumpah itu ada sebelum akhirnya aku bertemu denganmu, dengan mata yang bersumpah akan menungguku diakhir hidupmu sebelum memejamkan mata dan benar-benar pergi. Tidak ada daya lagi untuk membangunkanmu. Aku bukan Tuhan. Aku hanya Bhisma. Aku bersumpah menyesali semua sumpahku. Kalau saja waktu itu tidak bertemu dengan kamu, kalau saja saat itu kau tidak bersujud memohon-mohon padaku, dan kalau saja benda tajam itu tidak tertarik begitu saja menghabisi nyawamu dalam hitungan detik, semuanya pasti berbeda. Ribuan maaf macam apa yang bisa aku ungkapkan? Sedangkan sumpah selalu menjadi tembok kuat untuk bertahan. Kumohon, tenanglah kau disana, lupakan sumpahmu. Aku tersiksa sekaligus kehilangan. Butuh berapa lama agar aku ikut mati dan bertemu dengan kamu? Sumpahku masih bertengger kuat disana. Aku mohon Amba. Sumpah dalam tatap mata adalah penyiksaan terberatku. Tenanglah disana. Atau, tunggulah aku disana tanpa harus menghitung waktu.

( Terinspirasi oleh cerita wayang Bhisma dan Amba dalam kisah Mahabharata )

Rabu, 18 Juni 2014

Takut Gelap

Kau eratkan lagi selimut itu,
Merapihkan mimpi-mimpimu
Mereka sering bilang kau tidak pernah terbangun,
Dan kau nyaris terjatuh memikirkannya.
Mendadak kau menjadi begitu takut gelap,
Tapi beberapa menyarankan kau melihat matahari,
Dan tentu kau melihatnya,
Tapi tidak merasakan cahayanya.

Kau mencoba berlari ke ujung jalan itu,
Mereka sering bilang itu buntu,
Bahkan sering bertanya,
“ Apa maumu, apa tujuanmu?”
Kau diam seolah kau bisu.
Kau masih ingin merapihkan mimpimu.
Ujung jalan itu tetap kau cari.

Lama kau tersesat,
Kau sibuk menerawang,
Sibuk bergulat dengan semua daftar mimpi.
Tapi kau selalu takut,
Lagi-lagi kau takut gelap akan datang mendekap,
Dan mereka hanya bisa bilang,
“ Mungkin saja.”
Seketika itu juga kau hanya ingin tertidur begitu lama.
Ada jalan yang kau pikir adalah jawaban,
Kau melangkah begitu pelan,
Lagi-lagi takut menemukan gelap.
Matamu sengaja kau pejamkan,
Belajar menjadi buta sering kau pikirkan,
Tapi bukan itu intinya.
Kau hanya takut melihat nyata.

Namun sepasang bidadari datang begitu saja,
Berbisik pelan padamu,
“ Niatkan yang baik, karena selalu ada doa terbaik.”
Setelah itu kau tertidur,
Kau Nampak begitu lelah,
Sedikit merasa takut,
Tapi berjanji aku terbangun.
Berjanji melewati gelap.

Minggu, 23 Maret 2014

Dingin

Dingin...
dalam dekapan selendang itu kau bersandar seolah nyaman,
gigilanmu tidak lagi ada arti,
dan caramu menghela nafas sama sekali tidak membantu,
kau hanya mampu memeluk diri,
dan berharap seadanya.

Rasa pilu jelas menelusuki hampir seluruh tubuhmu,
yang kau mau hanya harapan itu,
yang sering mereka bilang hangat.
Dan lagi-lagi kau berucap "dingin",
sembari semakin memeluki tubuhmu.

Kau menggerutu lagi,
karena ini benar-benar dingin,
selendangmu tak pernah mampu menghangatkan,
bahumu lemah sudah,
dan kakimu tak mampu lagi menapak.

Bibirmu bergetar sudah,
menerka-nerka apa yang dibalik pintu,
dinginkah? hangatkah? atau panaskah?
kau menerka-nerka,
semoga bukan dingin, katamu.

Kau diam.
Merasa begitu kedinginan.
Tak mampu lagi melangkah,
namun lelah bertahan.
Kau cuma kedinginan.

Kamis, 20 Maret 2014

Hanya Ingin Sekedar Pergi

Hanya ingin sekedar pergi
terlepas dari apa yang dirasa beban,
menjauh dari semua degupan rasa,
kerisauan rasa,
dan ketidakmampuan bertahan.

Setiap memulai,
selalu merasa ada yang tidak tepat,
seperti kehilangan
walau semua tampak utuh,
selalu bertanya disetiap detik.

Ketidakberdayaan tak pernah bisa jadi alasan,
keraguan hanya penghalang,
langkah seringkali tak pernah pasti,
menempa diri sekuat apapun,
kalau tidak mau, harus bagaimana?

Hanya ingin sekedar pergi,
mencari jalan lain,
keluar dari pemikiran-pemikiran tertahan,
jauh dari lelah di 'sini',
dan menerjang sepi.

Seharusnya ia tahu,
mereka tahu,
lelap selalu merugikan,
dan hampa sering menjadi jawaban,
jangan lama-lama diam.

Sungguh.
Hanya ingin sekedar pergi.


Sabtu, 30 November 2013

Selimut Kelabu

terik itu bagai membekap,
menyesapkan kilau yang merekat,
tak pernah mau terlepas,
dan seenaknya menyikut keras.

ribuan detik menjadi penuh makna,
namun pagar begitu kuat menghalang,
menyentak keras tentang keinginan,
dan berterbangan seperti angin musim gugur.

ia seringkali menyatu dengan isyarat,
membelai seperti angin yang terlewat,
lalu begitu saja menghilang,
berlalu menemani awan menjelang senja.

gelap adalah yang paling ia hindari,
dan itulah mengapa ia mencintai bintang,
begitu mudah memaki malam bila mendung,

dan membenci bulan yang berselimut kelabu.

Minggu, 08 September 2013

Tentang Kata "Menjelang"

dan aku melihat matahari berwarna jingga,
memeluk keindahannya pada pagi,
yang dikelilingi separuh awan merah cerah.
tersenyum menyambut hari yang akan dimulai,
lalu melambai memberikan cahaya tak menyilaukannya. 


Ia tak akan lama-lama seperti itu,
karena waktunya telah ditentukan,
dan kedatangannya bukan ingin memberikan kehangatan,
tapi kelembutan cahaya.


seperti senja menjelang sore. 
Penikmatnya seringkali adalah penikmat gelap,
yang bersandar pada sunyi,
yang mencintai terang tanpa cahaya
dan menghayati semesta,
tentang kata "menjelang"