Tampilkan postingan dengan label Wayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wayang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2015

Mendalami 'diam', dalam " Cupu Manik Astagina " oleh Drama Wayang Swargaloka

Jangan pernah bertanya tentang ‘diam’ nya seseorang ketika dia memutuskan diam, kalau kau sudah memilih diam maka semuanya menjadi keras dan beku. Jadilah ia seperti tugu dalam penantian yang terbuai oleh diam.



Pertunjukan Swargaloka belum lama ini yaitu pada tanggal 21 Desember 2014 sangat berkesan, bagaimana tidak? Kita di sajikan tentang suatu kisah sebelum Ramayana ada. Tentang bagaimana yang menjadikan Subali, Sugriwa, dan dewi Anjani menjadi satu sama lain yang berkaitan dalam penceritaan Ramayana nantinya. Jangan tanya bagaimana kisah ini sebenarnya, tapi ambil makna yang sudah tersaji, mencari lebih dalam karena keinginan terdalam, dan belajar dari kisah. Penulis sendiri butuh waktu yang bisa di bilang lumayan lama mencari-cari atau bahkan menggali makna yang bisa penulis jadi acuan untuk di ambil hikmah dan sisi mana yang membuat penulis paling terkesima, dan ternyata tentang ‘diam’ nya dewi Windradi.

Sebagian pecinta wayang pasti sudah tahu secara umum bagaimana kisah ini, tentang hadiah bernama Cupu Manik Astagina yang di berikan oleh Dewa Surya kepada sang Dewi Windradi yang kemudian di berikan oleh anak perempuan satu-satunya yang bernama Anjani.  Memang hadiah dari dewa selalu menyenangkan hati, dan Anjani merasakannya. Begitu memujanya hingga Anjani terlupa bahwa ada kedua kakaknya yang memperhatikan, yang kemudian mempertanyakan apa di balik genggaman Anjani yang tertutup rapat itu. Waktu tidak berdaya lagi, terbongkar apa yang di simpan oleh Anjani sehingga mengakibatkan adanya pertemuan keluarga yang di kepalai Resi Gotama  mempertanyakan tentang hadiah tersebut.

Anjani tidak bisa menahan diri untuk tidak menjawab pertanyaan ayahnya, dan berhadaplah dewi Windradi yang kini bertanggungjawab tentang hadiah tersebut. Namun, di pilihnya ‘diam’ sebagai jawaban. Berkali-kali desakan untuk menjawab tidaklah membuka rahasia terpendam sang Dewi.  Kemudian, jadilah dewi Windradi menjadi sebuah tugu karena amarah sang Resi. ‘Diam’ nya sang dewi adalah rahasia penuh makna yang tidak ingin di ketahui kedalamannya.



Entahlah, pertunjukan ini membuat penulis terkagum-kagum oleh arti ‘diam’. Ini bukan tentang diam yang tidak bersuara, tapi suara yang menjadi ‘diam’ atau kalau mau di maknai lebih umum adalah rahasia yang tersimpan rapat. Dari sini penulis sadar betul bahwa memang sudah sewajarnya setiap manusia selalu punya rahasia yang tidak bisa mereka ungkapkan. Seluas apapun pembicaraan, selalu ada makna ‘diam’ yang tersembunyi dalam sunyi. Dan, “tugu” adalah contoh rahasia yang tak terungkap, termaknai oleh kerasnya diam terjaga rapat.




Dari pertunjukan ini, penulis senang sekali memaknai ‘diam’ dan kata “tugu” itu sendiri. Kembali lagi pada penceritaan cerita ini sebenarnya banyak sekali mengandung makna bukan? Ada “tahta” atau “keindahan yang di perebutkan” kalau ingin mencari lebih dalam. Tapi, penulis sangat mengidamkan makna tugu dewi Windradi. Sebenarnya, bukan tentang apa yang teesembunyi di balik itu, tapi suatu nyata bahwa memang manusia selalu punya tugu dalam dirinya masing-masing. Selalu ada rahasia yang menjelma menjadi ‘diam’. Dan, pertunjukan drama Wayang Swargaloka ini menyajikannya begitu mengena di hati para penikmat wayang yang hadir. Menginspirasi tentang ‘diam’, luar biasa bukan? Karena kalau sudah memilih ‘diam’, dunia pun akan ikut ‘diam’.


Rabu, 03 Desember 2014

Salah Paham ( Subali dan Sugriwa )

Subali dan Sugriwa


Namanya juga hidup, pasti pernah salah paham.

aku belajar dari tahta yang sering mereka banggakan,
sering melihat betapa rasanya indah memiliki tahta,
betapa kekuasaan menjadi keutuhan yang sempurna,
tapi tahta jelas seringkali menutup mata.

aku lihat dua orang itu,
Subali dan Sugriwa.
terkenal hebat dan sayang satu sama lain,
tapi 'sayang' itu hanya ada dulu sekali.

tahta menutup mata,
walau sebenarnya hanya salah paham.
tapi siapa yang mau tahu?
Subali pun tidak mau.

Sugriwa merasa memiliki tahta,
karena merasa Subali sudah pergi dari dunia,
tapi apa daya,
Subali datang langsung marah-marah.

harusnya ada penjelasan,
tapi terbutakan karena dipikir haus tahta,
jadi rasanya semua percuma,
yang ada malah perselisihan.

ribuan lelah menyeru dihati, 
sebenarnya ada rindu tentang damainya masa lalu,
tapi apa mau dikata,
'tahta' sudah menjadi topik utama.

lalu Subali mati,
meninggalkan sesal,
mengeluh betapa selama ini ia buta,
dan tersadar menjelang kematian.

Dan sekarang aku tahu...

hidup adalah hidup,
salah paham selalu menyelundup,
tapi kenapa harus sekarat dulu?
lagi-lagi cuma masa lalu.


Terinspirasi dari kisah Subali dan Sugriwa dalam kisah Ramayana

MARATAHON WAYANG ORANG DI WOSBI 2014!

Solo! Jangan tanya alasan kenapa mendadak berencana pergi ke SOLO? Tentu saja karena ada WOSBI 2014! Dulu waktu tahun 2011 enggak kesampean bisa nonton WOSBI, dan pernah berharap kalau acara ini ada lagi, dan… teng… teng…  teng… nyatanya memang adalagi. ALHAMDULILLAH. Awalnya berencana pergi sebenarnya sudah lama, tapi persiapannya bener-bener mendadak karena galau sama jadwal. Hehehe. Tapi memang sudah jalannya untuk pergi, dan berangkatlah ke Solooooo.



Baru sampai di Solo memang terasa cukup cape, tapi ternyata kebayar sama pertunjukan WOSBI yang menyajikan pementasan wayang orang dari kumpulan seniman wayang dari berbagai tempat. Bayangkan saja ada banyaaakk banget pementasan, dan acara ini pas banget buat penikmat dan pecinta wayang orang. Buat orang-orang yang baru mengenal wayang orang juga cukup pas, karena dari acara ini mereka diperkenalkan pada pementasan wayang orang, dan pastinya akan takjub melihat betapa pementasan yang dimainkan sangat menakjubkan dengan penyuguhan cerita dan tarian wayang yang indah, klasik, dan anggun.  Semoga yang baru mengenal wayang orang bisa terbuka mata dan hatinya bahwa pertunjukan wayang orang bukan sekedar pertunjukan biasa, tapi juga banyak sekali moral-moral kehidupan yang tertanam pada penceritaan. Mau bukti? Mending coba nonton langsung! :D



Hal segar yang ditampilkan WOSBI bukan hanya tentang pementasannya saja, tapi banyak juga anak-anak generasi wayang orang yang masih muda-muda yang ikut berpartisipasi dalam pertunjukan. Melihatnya saja sudah bikin kagum, masih muda tapi mampu ikut mempertahankan salah satu budaya Indonesia yang fenomenal ini. Rasanya mau peluk satu-satu para pemain muda itu, apalagi yang masih sangat kecil tapi sudah keren dalam memainkan peran. Aduuuh.. mau dibawa pulang aja. Hehehe. Beneran deh, penulis terharu banget betapa masih banyak generasi mudah yang masih mau tetap menjaga ‘identitas’ Indonesia dibalut budaya. Rasanya malu, karena penulis masih belum ada apa-apanya dibanding mereka.




Hari demi hari, pementasan demi pementasan yang dilaksanakan dari tanggal 13-16 November 2014 selalu mengesankan. Ada harapan semua acara seperti ini bisa terus ada sehingga pelan-pelan pun para pecinta wayang orang juga akan bertambah, dan semakin menunjukan bahwa wayang memang harus tetap hidup. Apalagi kemarin acaranya bisa dikatakan sukses! Wah… mudah-mudahan acara seperti bisa terus ada karena dengan adanya acara ini tentunya menunjukan eksistensi bahwa wayang orang masih berdiri tegak di era modern seperti ini. Berikut kutipan Bapak Ali Marsudi selaku ketua WOSBI yang di ambil dari “buku program” WOSBI 2014 yang menyatakan :

“ Agar jiwa kita bergetar… rasa kita tergugah..
 Semangat kita membara… hidup kita berwarna…
Rasa kemanusiaan serta jadi diri dan kemuliaan kita sebagai manusia tetap terjaga…
Maka wayang orang harus tetap ada…”


Kenapa beliau berbicara seperti itu? Yup, karena wayang orang harus tetap hidup di jaman yang modern ini. Wayang adalah sajian penuh makna yang kalau saja kita mau memperdalaminya, kita akan lihat betapa ada cerminan hidup yang bisa kita jadikan salah satu panutan. Bukan tentang melihat adanya seni dan keindahan yang tampak, tapi juga pelajaran hidup yang tersimpan dari setiap cerita, atau bahkan dari setiap tokoh-tokohnya. Oleh karena itu, yuk pertahankan warisan budaya ini! Salam budaya! Salam wayang!




foto : koleksi pribadi (maaf klo kurang bagus. maklum) ^!^

Selasa, 08 Juli 2014

Sinta Menanti...

DEWI SINTA


Tidak pernahkah kau lihat aku duhai Rama,
menanti sabar disini,
dalam iming-iming kebahagiaan,
tanpa cacat keindahan,
tanpa goresan pada kulit,
tanpa harus menata dengan lelah.

Aku terlalu lama berdiri pada taman keindahan,
tapi semuanya tetap semu tanpa kamu,
aku seperti buta pada seluruh pandangan,
karena yang aku impikan hanya matamu,
dan berharap agar penantian ini cepat berakhir.
Aku jelas memendam rindu begitu dalam.

Mengapa harus begitu lama,
mengapa harus begitu terasa sepi,
mengapa rembulan terus kelabu.
Aku sudah mematung begitu lama disini.
Kau dimana?
Aku tidak pernah tahu.
mencariku kah?
Aku selalu berharap begitu.

Cepatlah datang, Rama.
Genggam tanganku dan segera kau bawa aku pergi,
Lihatlah, betapa aku nyaris kekeringan disini.
Aku dehidrasi.
Bagaimana mungkin semua bisa terasa begitu semu?
Sedang penantianku tak lalu-lalu.
Kau begitu lama.

Minggu, 06 Juli 2014

SUMPAH (II)



Lesmana



Aku bersumpah, dan itu akan memperkuatku untuk tidak melanggarnya. Hidup adalah tentang kepercayaan. Sumpahku adalah pendirianku, yang nantinya akan mendarah daging dalam tubuh dan aliran darahku. Percaya atau tidak, ini hanya masalah waktu. Aku benci bersumpah, tapi aku harus melakukannya. Mendapatkan kepercayaan adalah suatu kebutuhan dalam hidup, dan itu adalah yang seringkali mengekalkan untuk melupakan keinginan manusia, khususnya pria seperti seperti aku. Hal kecil membuatku harus bersumpah, demi hilangnya suatu prasangka yang buruk. Jangan kau bertanya lagi duhai Sinta, aku sudah bersumpah. Jangan lagi kau menangisi apa yang baru aku ikrarkan. Ketidakpercayaanmu membuatku dirundung ketakutan pada hidup. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadinya nantinya. Sumpah ini adalah bukti nyataku dari bibir yang terucap, yang nantinya akan menahanku pada masa depan yang sama sekali tidak ku ketahui. Sumpah adalah ikatan yang seharusnya tidak boleh terputus, dan oleh karena itu aku bersumpah. Mereka boleh berduka, atau kau juga ikut berduka, tapi hatiku jelas lebih berduka. Lidah sudah bersuara, bumi sudah mendengarkan, dan Sang Pencipta sudah mencatat. Biar sumpah ini memendam dalam seluruh jiwa dan raga. Sampai matipun aku akan tetap bertahan pada sumpah ini. Pada sumpah yang aku tau artinya adalah kesepian. Aku tidak akan pernah tau masa depan, tapi aku akan selalu tau sumpahku. Kalau nanti aku melanggar, sungguh hanya biarkan sang Pencipta yang menghukumku. Jangan kau tatapi aku dengan rasa menyesalmu, duhai Sinta. Melihatmu yang panik saat itu, melihat ucapan ketidakpercayaanmu, melihat bahwa seorang titisan sang Dewi begitu ragu pada amanah perlindungan yang harus kuberikan, maka dari situlah aku bersumpah. Aku tidak akan pernah menikah. Bukan karenamu, tapi karena tatapan matamu yang walaupun dalam sekejap tapi begitu terlihat. Kau tidak benar-benar percaya padaku. Aku sudah bersumpah. Kini,  biarkan aku yang nantinya akan terhanyut dalam perang besar yang selalu diderai rasa sepi.

( Terinspirasi dari  sumpah Lesmana untuk Sinta )

Jumat, 04 Juli 2014

SUMPAH

Kamu boleh menunggu terlalu lama, tapi jangan gunakan sumpahmu untuk menungguku sampai mati. Aku tersiksa pada dirimu yang menantiku. Bukan bibirmu yang mengatakan akan menungguku, tapi matamu jelas berkata-kata seperti itu. Penantianmu sampai mati, jelas itu yang benar-benar kau mau. Aku menyesalinya, untuk sekedar kau tahu. Aku menyesali sumpah lamaku. Sumpah bahwa aku tidak akan pernah menikah seumur hidupku, dan akan mati diwaktu disaat apa yang aku aku inginkan tercapai sudah. Sayangnya, sumpah itu ada sebelum akhirnya aku bertemu denganmu, dengan mata yang bersumpah akan menungguku diakhir hidupmu sebelum memejamkan mata dan benar-benar pergi. Tidak ada daya lagi untuk membangunkanmu. Aku bukan Tuhan. Aku hanya Bhisma. Aku bersumpah menyesali semua sumpahku. Kalau saja waktu itu tidak bertemu dengan kamu, kalau saja saat itu kau tidak bersujud memohon-mohon padaku, dan kalau saja benda tajam itu tidak tertarik begitu saja menghabisi nyawamu dalam hitungan detik, semuanya pasti berbeda. Ribuan maaf macam apa yang bisa aku ungkapkan? Sedangkan sumpah selalu menjadi tembok kuat untuk bertahan. Kumohon, tenanglah kau disana, lupakan sumpahmu. Aku tersiksa sekaligus kehilangan. Butuh berapa lama agar aku ikut mati dan bertemu dengan kamu? Sumpahku masih bertengger kuat disana. Aku mohon Amba. Sumpah dalam tatap mata adalah penyiksaan terberatku. Tenanglah disana. Atau, tunggulah aku disana tanpa harus menghitung waktu.

( Terinspirasi oleh cerita wayang Bhisma dan Amba dalam kisah Mahabharata )

Minggu, 06 April 2014

Dalam Rindu Banowati



Kau boleh pesimis, tapi  bukan berarti kau menjadi sinis,
Kau boleh mengiris, tapi tidak harus mendesis
Kau boleh menangis, hanya jangan pernah  dramatis
Kau diharuskan mengais, tapi bukan menjadi pengemis. 

===========================================================


Dalam Rindu Banowati...


Dalam langkah anggunnya, wanita dengan keanggunan tanpa ragu menangis tersedu memandang bulan yang selalu tampak sendu. Berharap waktu kan mudah ia jelajahi tanpa rasa gundah yang membelokan langkahnya. Ini bukan tentang bagaimana seharusnya ia mengabdi, ini tentang bagaimana hatinya yang sulit melampaui batas rindu kepada purnama yang tak pernah begitu saja berlalu nyaris di setiap malam. Banowati bukan ingin mengeluh, tapi hatinya jelas bersenandung luruh. Ia jelas-jelas merindu, tapi purnama selalu didekati kabut, dan Banowati tak pernah mampu menyingkap kabut karena untuk melewati pagar berpenghalang tak terkunci itu saja ia tidak pernah sanggup. 


Ada kesadaran yang Banowati sadari, nyata yang selalu merangkul dirinya dan seolah-olah membangunkan dari rasa lelap bahwa ia tidak boleh lama-lama menetapkan rindu. Menyadari atau tidak menyadari tak pernah ia benar-benar pastikan. Pernah ada rasa gigil  yang Banowati ingin segera lepas, tapi sungguh purnama yang tampak dekat itu seperti selalu melingkup pada asa atau sepi kala sunyi disetiap malam. Purnama berkabut diatas sana adalah hal yang selalu Banowati nantikan,  sekedar untuk diratapi dan tanpa di berikan isyarat atau bahkan  tersentuh dengan tangan halus selembut kapas. Ia mengagumi purnama dengan setia pengabdian yang tak pernah boleh terucap. 


Ikatan yang tertanam pada langkah Banowati bukan penghalang yang seharusnya melenyapkan mimpi, karena sekuat apapun itu masih dapat terlepas atau sekedar dibiarkan tergeletak dan dienyahkan. Namun ia bukan pengingkar janji, bukan pula ingin menjadi penanam kebencian. Situasi seolah tidak pernah mau berpihak padanya, dan pilihan selalu menjadi sebuah dilema yang menggiringnya untuk menetapkan langkah yang sering ia bilang “salah”. Ia hanya mampu terduduk seperti meratapi, menggenggam janji nyata yang tidak boleh diingkarinya, dan bertumpu pada prinsip yang mau tidak mau dipertahankan. Menjadi dewi seorang Prabu yang hanya mampu memandangi rembulan dari singgasananya. Dari tempatnya yang paling gelap. Sunyi. 


Pernah ia mencoba mencari-cari, menggali dan menemukan apa yang sebenarnya hilang, tapi sungguh jawaban tidak pernah mau begitu saja datang. Ia benar-benar mencoba, untuk menetap pada kenyataan yang tak diinginkan. Bukankah hidup tentang nyata yang harus dihadapi? Itu berkali-kali yang selalu ia tekankan, walau jelas-jelas tampak air matanya menggenang di pelipis matanya yang indah seperti teratai yang menggenang pada air tenang tanpa suara atau hanya sekedar bisikan. Sungguh bukan ingin menyerah atau pasrah pada janji yang sudah terlanjur terucap. Ia hanya sadar diri , lalu begitu saja berdiam diri. Banowati berdiri pada kursi megah kenyataan, bukan ingin menangis, tapi lebih ingin memahami diri. 


Rasanya begitu saja orang merindu,
menelan pahit tertahan tanpa penawar,
dan berbalik pada kenangan masa lalu,
saat menjadi bintang mendampingi purnama.

Bukan menangisi atau menyesali,
tapi rindu menyergap begitu saja,
dan ia bukan lagi bintang,
hanya jelmaan si penikmat purnama.

Dan hanya purnama yang tertanam,
yang terang tanpa bersinar,
tapi dalam tersimpan,
yang hanya ada dalam gelap.

Tidak ada yang melarangnya merindukan purnama,
tapi kenyataan menahannya untuk terucap,
menderai bagai debu pasir tak tergenggam,
tersimpan sebagai purnama.

Sebagai Arjuna.

Aku 'Kumbakarna'



Jika aku melangkah, maka sudah pastilah akan kemana
Langkahku lebar-lebar dan melebihi langkahmu,
Berlaripun tak akan kau mampu mengejarku,
Berpuluh kali lipat kau berkata lelah, itu baru satu langkahku,
Jangan pernah kau heran,
Atau bertanya ribuan kali,
Tak akan ada guna,
Aku adalah pelangkah besar, dengan badan besar,
Aku Kumbakarna. 


Mereka bilang akulah adik penguasa Alengka,
dan 'Ya' aku akan menjawab lantang,
Cintaku jelas untuk negeriku dan itu tentu Alengka,
Cukup jengah aku mendengar mereka,
Menghina Alengka seburuk pikiran mereka,
Terhuni oleh begitu banyak raksasa,
dan aku memang dari salah satu raksasa,
Lalu mengapa? 


Kalau mereka tanya apa yang paling aku suka,
maka aku akan menjawab 'tertidur',
dan aku akan biarkan mereka tertawa.
Bukankah ini memang lucu?
Aku sendiri menertawakannya.
Dan tawaku sungguh sangat lantang.
Dapatkah kau mendengarnya?
Kuharap “YA”. 


Mereka bilang aku salah mengabdi,
bahkan sebagian dari mereka berkata aku salah jalan.
Peduli apa? Mereka tau apa?
Yang aku tau bahwa aku mencintai Alengka,
dan aku tidak pernah benar-benar bilang
aku mendukung Rahwana.
Kali ini aku akan balik bertanya,
“Kau tau apa tentang mengabdi?”
Anggap saja aku bertanya sambil tertawa. 


Bukan ingin memaksamu memahami situasi,
tapi inilah aku,
Si raksasa yang bernyali besar,
aku relakan kematianku demi mengabdi,
Untuk Alengka. Tentu saja hanya Alengka.
Sudah cukup aku mendengar kau berprasangka,
Aku Kumbakarna, mengabdi untuk Alengka.
Kau?

Sabtu, 30 November 2013

BALADEWA

Kenapa Baladewa? Karena dia keras kepala.
Kenapa keras kepala? karena dia Baladewa.

Dan hari itu kau akan melihat Baladewa melangkah,
bukan ke arahmu,
bukan ke tempatmu,
namun ke ujung jalan itu,
ke yang paling sunyi itu.

Ia sering sekali berteriak,
seringkali memaki,
dan mengeraskan hatinya,
untuk tetap pada prinsipnya.

Jiwanya keras bagai batu,
wataknya tak kalah keras,
Ia akan begitu mudah marah,
begitu mudah kesal,
namun begitu mudah menangis.

Marahnya adalah tangis kecewa,
dan makiannya adalah harapan pupus.
Ia mencintai keadilan,
tapi sering salah mengartikannya.
sering salah memaknainya.
Dan ketika salah ia akan memaki.

di ujung jalan itu ia akan terdiam,
jauh dari hal yang dibencinya.
menangisi yang gagal ia damaikan,
dan berjanji kembali saat semua usai.


Selasa, 23 April 2013

Cinta Mati Rahwana

Rahwana


Dalam tokoh pewayangan khususnya dalam cerita Ramayana pasti kita kenal dengan salah satu tokoh terkenal dan sangat fenomenal ini. Namanya Rahwana, atau biasa dikenal dengan sebutan Dasamuka karena memiliki sepuluh kepala. Tokoh yang satu ini tentunya sangat tidak asing bagi para pecinta wayang, yang karakternya dikenal cukup keras kepala dengan prinsip dan segala keinginannya.  Ya, biasanya sih dia paling dikenal sebagai musuhnya Rama Wijaya yang juga biasa kita ketahui sebagai tokoh utama dalam cerita Ramayana. Selain karena menjadi penyebab segala ke-Angkara Murka di dunia, Rahwana juga menculik istri Rama yang bernama Dewi Sinta, dan inilah yang menjadi sebab utama mengapa Rahwana sudah sangat jelas menjadi musuh yang harus dikalahkan oleh tokoh utama dalam cerita ini, yang juga titisan Wisnu.

Namun kali ini tidak akan membahas semua yang Rahwana jalani di hidupnya, mari kita bahas salah satu sisi lembut Rahwana yang terlihat begitu keras kepala namun beralasan. Cinta. Ini tentang bagaimana yang membuat seorang Rahwana bertekad keras untuk mendapatkan Sinta sang titisan dewi widowati dengan cara apapun, dan menculik Sinta adalah cara yang paling tepat yang ada di pikirannya, karena memintanya langsung kepada Rama bukan hal yang tepat atau bisa dikatakan adalah tidak mungkin. Mana mungkin ada suami yang mau memberikan istri tercintanya begitu saja, jelas Rama tidak akan pernah menyerahkan Sinta yang dicintainya. Namun, Rahwana bukan tipe yang  mudah menyerah, dan sifat seperti ini sudah sangat mendarah daging ditubuhnya.  Rasa cinta Rahwana pada dewi Sinta bisa dikatakan sudah 'buta'. Ia tak peduli akan berhadapan dengan siapa untuk memperebutkan dewi Sinta.  Baginya, memiliki Sinta adalah keharusan yang sudah ia tetapkan di hatinya.

Kerinduan untuk memiliki Sinta selalu terbenam di hati Rahwana yang paling dalam. Banyak wanita-wanita yang hidup didalam kehidupan Rahwana, namun Sinta tetap menjadi yang di dambakan. Nyaris tiada hari dimana Rahwana tidak memikirkan Sinta, hatinya selalu menginginkan Sinta, dan itu akan tetap terus kuat sampai ia bisa memiliki wanita pujaannya itu. Pernah tatkala Rahwana sudah mencoba ribuan kali untuk mendapatkan Sinta, tapi ia gagal. Hingga akhirnya ia menyuruh abdi yang paling ia percaya untuk memperdayai Rama dan Lesmana (adik Rama) dengan menyuruhnya untuk menjadi seekor kijang berbulu emas. Rahwana memang pintar bersiasat, dan abdinya yang bernama Marica juga sangatlah cerdik. Mereka bekerja sama untuk memperdayai Rama, Sinta, dan Lesmana yang saat itu sedang berada dalam masa pembuangan dan sudah kuat lah tekad mereka kalau saat itu mereka harus berhasil mendapatkan Sinta.

Semua memang sangat terencana dengan rapih, hingga Rahwana dapat menculik pujaan hatinya. Rama, Sinta, dan Lesmana terpedaya sudah. Sinta sudah dalam genggamannya, dan Rahwana bisa berbangga hati karena sang dewi pujaan kini sudah ada disamping nya. Di bawa nya Sinta ke negeri Alengka, di beri nya suatu istana dengan taman-taman yang indah sebagai pelipur kesenangan untuk cinta sejatinya itu. Bertahun-tahun Sinta di berikan kemewahan yang tiada tara, tapi urusan hati memang sulit. Sinta tak pernah sedikit pun mencintai Rahwana. Hati Sinta selalu mendambakan Rama dan tak pernah habis daya Sinta untuk memohon-mohon pada Rahwana agar ia di kembalikan pada junjungan nya itu. Namun, lagi-lagi Rahwana tidak pernah menyerah, ia tidak akan dengan begitu saja melepas Sinta, hasrat dan cinta nya pada Sinta sudah begitu kuat, dan melepaskan Sinta sama saja melepas jantung di dalam tubuhnya.

Rahwana Menculik Sinta

Apapun sudah di lakukan oleh Rahwana agar pujaan hatinya senang. Segala kemewahan, dayang-dayang, taman yang indah, dan banyak lainnya tak pernah di perhitungkan bila itu untuk Sinta. Kunjungan yang rutin pun selalu ia lakukan walau itu hanya sekedar menatap wajah Sinta. Bersabar hati selalu di coba nya berharap Sinta bisa perlahan-lahan mencintai dirinya dengan sepenuh hati. Namun, kesabaran seorang Rahwana memang terbatas, dan berlama-lama seperti ini pun tak lagi mampu di bendung nya. Kerinduan nya tidak pernah terbalas, dan Rahwana merasa sudah cukup sampai di sini untuk bertahan, tapi tidak berarti ia akan melepaskan Sinta. Hatinya masih sangat keras.

Di hampiri nya Sinta dengan tergesa-gesa, di paksanya kini Sinta untuk melupakan Rama dan bersedia di pinang olehnya. Merasa hatinya sudah tak cukup lagi memendam cinta, Rahwana pun mengancam Sinta masih dengan harapan Sinta akan menerimanya. Namun semua gagal. Cinta Sinta memang bukan untuk Rahwana. Sempat terpikir oleh Rahwana untuk membunuh Sinta, karena baginya akan lebih baik Sinta mati dan tidak di miliki oleh siapapun tapi terhalang oleh Trijatha yang memohon kepada Rahwana untuk tidak membunuh Sinta. Lagi-lagi Rahwana mencoba bertahan, lalu di simpan nya keris yang akan di pakai nya itu ke dalam tempatnya. Hatinya makin terluka dan membayangkan Sinta kembali ke dalam pelukan Rama jelas akan menambah torehan luka itu, hingga Rahwana tetap memutuskan menahan Sinta. Bujukan apapun tentang lebih baik mengembalikan Sinta tak pernah sedikitpun ia dengarkan. Baginya, akan lebih baik Sinta berada di istana nya, tak peduli kesedihan yang akan Sinta rasakan nantinya, karena hatinya juga pilu.

Peperangan pun akhirnya berkobar sudah di depan mata. Keburukan-keburukan Rahwana tampak jelas sudah hingga banyak yang ingin memusnahkannya. Rama pun datang secara langsung dan meminta dengan tegas untuk mengembalikan Sinta. Rahwana jelas mengelak dan tidak peduli harus berperang selama apapun. Sinta tidak akan pernah di kembalikan, walaupun harus nyawanya yang di korbankan. Kehilangan anak kesayangan, dan adik-adik tercintanya pun tidak melemahkan hati Rahwana  untuk mengembalikan Sinta. Ia kokoh pada pendiriannya, pada apa yang sudah ia dapatkan dan tak boleh seorang pun menggugat nya. Walaupun takdir  pun akhirnya berkata lain, dan Rahwana bisa di kalahkan oleh Rama yang di bantu Hanuman. Sekeras apapun Rahwana mencoba bertahan, namun semuanya sirna sudah. Raganya tak mampu lagi berdiri dengan tegak, pasukannya lemah sudah hingga ia pun akhirnya ikut terjatuh tersungkur di tanah peperangan. Tergolek tak lagi berdaya. Mendendam kebencian pada Rama. Memendam cinta pada Sinta.

Kamis, 18 April 2013

Mari Mampir ke Jogja dan Solo!! ( Nonton Wayang )

Jogja dan Solo adalah dua kota yang masih sangat kental akan kebudayaannya. Di kedua kota ini kita masih bisa sangat jelas melihat betapa kota-kota ini begitu khas dan pastinya terlihat lebih 'klasik' dan 'tradisional' di bandingkan dengan kota yang lain. Siapa yang sih yang enggak tau Jogja dan Solo? nyaris semua masyarakat Indonesia tau kedua kota ini. Jika kamu pecinta budaya, khususnya budaya jawa, maka kedua kota ini bisa di bilang adalah tempat yang sangat tepat untuk di kunjungi.


Jika berkunjung ke kota ini tentu saja rasanya akan sangat kurang berkesan kalau kita sendiri enggak datang untuk menyaksikan pertunjukan atau pementasan yang masih ada kaitannya sama hal yang berbau budaya. Kenapa? ya seperti yang saya bilang tadi, rasanya kurang saja kalau kita berkunjung ke tempat yang masih kental budayanya tapi kita sendiri enggak tertarik atau tidak mau mencoba melihat salah satu pertunjukan yang di sajikan kota ini untuk mempertahankan salah satu budaya Indonesia. 

Disini saya akan mengambil salah satu yang paling bisa di bilang cukup terkenal, dan umum. Mungkin kalau acara adat atau yang masih berkaitan dengan tradisi butuh informasi yang cukup untuk bisa menyaksikannya langsung, jadi saya lebih menyarankan anda menyaksikan sendratari atau wayang orang di kota ini karena informasinya bisa di update  melalui internet dan itu sangat memudahkan bukan?. Kenapa juga wayang orang? karena dari pertunjukan ini lah kalian akan melihat betapa indahnya tarian-tarian, alunan musik, dan alur cerita yang biasanya di ambil dari cerita Mahabarata atau Ramayana akan begitu berkesan dan mengena di hati para penonton.

Berkunjung ke kota Jogja, mungkin anda bisa mengunjungi Ramayana Ballet di prambanan dan Ramayana Ballet di Pura Wisata. Kedua tempat tersebut bisa di bilang sangat terkenal akan sendratarinya yang menceritakan tentang cerita Ramayana. Mungkin awalnya banyak yang berpikiran kalau mereka akan sulit mengerti tentang isi ceritanya, tapi hal tersebut tidak perlu di khawatirkan lagi karena kedua tempat ini selalu menyediakan sinopsis berbahasa Indonesia dan bahkan ada bahasa lainnya pula! Dari sinopsis itulah kita akan mengerti isi cerita dari tarian yang di persembahkan, atau setidaknya mengetahui inti cerita dari tarian-tarian tersebut. Tempat dan suasana yang disajikan oleh kedua tempat ini juga sangat bagus dan mendukung sama cerita yang akan di pentaskan.

Ramayana Ballet Prambanan ( Jogja )
Ramanayana Ballet Pura Wisata ( Jogja )


Mari ke Solo! ya, di Solo juga ada tempat pertunjukan wayang orang yang terkenal. Namanya Wayang Orang Sriwedari. Mungkin penulis memang belum pernah mengunjungi tempat ini, tapi berdasarkan orang-orang yang menyukai wayang khusunya wayang orang, sering merekomendasikan saya untuk berkunjung ke tempat ini. Menurut informasi yang di dapatkan, wayang orang disini sangat rutin melakukan pertunjukan  bisa beberapa kali dalam seminggu. Jadi, buat yang berkunjung ke Solo di akhir pekan maupun bukan di akhir pekan bisa sempat mampir kesini:)

Hanya saja disini yang akan share pertunjukan wayang orang yang kebetulan diadakan di Taman Budaya Solo. Pertunjukan ini bukan pertunjukan rutin, hanya waktu-waktu tertentu dan tergantung yayasan yang akan mengadakannnya. Waktu itu pertunjukannya berjudul " Sang Karna Basusena". Gratis! Para lakonnya juga sangat bagus karena di perankan oleh para pemain wayang orang yang sudah sangat berpengalaman dan terkenal dalam dunia seni pewayangan. Para penonton juga disajikan buku sinopsis yang memberikan panduan kepada penonton untuk bisa mengetahui inti dari cerita yang akan disajikan. Wah, pokoknya pertunjukan yang sangat menawan dan berkesan!

" Sang Karna Basusena " ( Solo )


Orang Indonesia? sedang mampir ke Jogja atau Solo? Mari menonton wayang...:)