Minggu, 06 April 2014

Dalam Rindu Banowati



Kau boleh pesimis, tapi  bukan berarti kau menjadi sinis,
Kau boleh mengiris, tapi tidak harus mendesis
Kau boleh menangis, hanya jangan pernah  dramatis
Kau diharuskan mengais, tapi bukan menjadi pengemis. 

===========================================================


Dalam Rindu Banowati...


Dalam langkah anggunnya, wanita dengan keanggunan tanpa ragu menangis tersedu memandang bulan yang selalu tampak sendu. Berharap waktu kan mudah ia jelajahi tanpa rasa gundah yang membelokan langkahnya. Ini bukan tentang bagaimana seharusnya ia mengabdi, ini tentang bagaimana hatinya yang sulit melampaui batas rindu kepada purnama yang tak pernah begitu saja berlalu nyaris di setiap malam. Banowati bukan ingin mengeluh, tapi hatinya jelas bersenandung luruh. Ia jelas-jelas merindu, tapi purnama selalu didekati kabut, dan Banowati tak pernah mampu menyingkap kabut karena untuk melewati pagar berpenghalang tak terkunci itu saja ia tidak pernah sanggup. 


Ada kesadaran yang Banowati sadari, nyata yang selalu merangkul dirinya dan seolah-olah membangunkan dari rasa lelap bahwa ia tidak boleh lama-lama menetapkan rindu. Menyadari atau tidak menyadari tak pernah ia benar-benar pastikan. Pernah ada rasa gigil  yang Banowati ingin segera lepas, tapi sungguh purnama yang tampak dekat itu seperti selalu melingkup pada asa atau sepi kala sunyi disetiap malam. Purnama berkabut diatas sana adalah hal yang selalu Banowati nantikan,  sekedar untuk diratapi dan tanpa di berikan isyarat atau bahkan  tersentuh dengan tangan halus selembut kapas. Ia mengagumi purnama dengan setia pengabdian yang tak pernah boleh terucap. 


Ikatan yang tertanam pada langkah Banowati bukan penghalang yang seharusnya melenyapkan mimpi, karena sekuat apapun itu masih dapat terlepas atau sekedar dibiarkan tergeletak dan dienyahkan. Namun ia bukan pengingkar janji, bukan pula ingin menjadi penanam kebencian. Situasi seolah tidak pernah mau berpihak padanya, dan pilihan selalu menjadi sebuah dilema yang menggiringnya untuk menetapkan langkah yang sering ia bilang “salah”. Ia hanya mampu terduduk seperti meratapi, menggenggam janji nyata yang tidak boleh diingkarinya, dan bertumpu pada prinsip yang mau tidak mau dipertahankan. Menjadi dewi seorang Prabu yang hanya mampu memandangi rembulan dari singgasananya. Dari tempatnya yang paling gelap. Sunyi. 


Pernah ia mencoba mencari-cari, menggali dan menemukan apa yang sebenarnya hilang, tapi sungguh jawaban tidak pernah mau begitu saja datang. Ia benar-benar mencoba, untuk menetap pada kenyataan yang tak diinginkan. Bukankah hidup tentang nyata yang harus dihadapi? Itu berkali-kali yang selalu ia tekankan, walau jelas-jelas tampak air matanya menggenang di pelipis matanya yang indah seperti teratai yang menggenang pada air tenang tanpa suara atau hanya sekedar bisikan. Sungguh bukan ingin menyerah atau pasrah pada janji yang sudah terlanjur terucap. Ia hanya sadar diri , lalu begitu saja berdiam diri. Banowati berdiri pada kursi megah kenyataan, bukan ingin menangis, tapi lebih ingin memahami diri. 


Rasanya begitu saja orang merindu,
menelan pahit tertahan tanpa penawar,
dan berbalik pada kenangan masa lalu,
saat menjadi bintang mendampingi purnama.

Bukan menangisi atau menyesali,
tapi rindu menyergap begitu saja,
dan ia bukan lagi bintang,
hanya jelmaan si penikmat purnama.

Dan hanya purnama yang tertanam,
yang terang tanpa bersinar,
tapi dalam tersimpan,
yang hanya ada dalam gelap.

Tidak ada yang melarangnya merindukan purnama,
tapi kenyataan menahannya untuk terucap,
menderai bagai debu pasir tak tergenggam,
tersimpan sebagai purnama.

Sebagai Arjuna.

Aku 'Kumbakarna'



Jika aku melangkah, maka sudah pastilah akan kemana
Langkahku lebar-lebar dan melebihi langkahmu,
Berlaripun tak akan kau mampu mengejarku,
Berpuluh kali lipat kau berkata lelah, itu baru satu langkahku,
Jangan pernah kau heran,
Atau bertanya ribuan kali,
Tak akan ada guna,
Aku adalah pelangkah besar, dengan badan besar,
Aku Kumbakarna. 


Mereka bilang akulah adik penguasa Alengka,
dan 'Ya' aku akan menjawab lantang,
Cintaku jelas untuk negeriku dan itu tentu Alengka,
Cukup jengah aku mendengar mereka,
Menghina Alengka seburuk pikiran mereka,
Terhuni oleh begitu banyak raksasa,
dan aku memang dari salah satu raksasa,
Lalu mengapa? 


Kalau mereka tanya apa yang paling aku suka,
maka aku akan menjawab 'tertidur',
dan aku akan biarkan mereka tertawa.
Bukankah ini memang lucu?
Aku sendiri menertawakannya.
Dan tawaku sungguh sangat lantang.
Dapatkah kau mendengarnya?
Kuharap “YA”. 


Mereka bilang aku salah mengabdi,
bahkan sebagian dari mereka berkata aku salah jalan.
Peduli apa? Mereka tau apa?
Yang aku tau bahwa aku mencintai Alengka,
dan aku tidak pernah benar-benar bilang
aku mendukung Rahwana.
Kali ini aku akan balik bertanya,
“Kau tau apa tentang mengabdi?”
Anggap saja aku bertanya sambil tertawa. 


Bukan ingin memaksamu memahami situasi,
tapi inilah aku,
Si raksasa yang bernyali besar,
aku relakan kematianku demi mengabdi,
Untuk Alengka. Tentu saja hanya Alengka.
Sudah cukup aku mendengar kau berprasangka,
Aku Kumbakarna, mengabdi untuk Alengka.
Kau?

Minggu, 23 Maret 2014

Dingin

Dingin...
dalam dekapan selendang itu kau bersandar seolah nyaman,
gigilanmu tidak lagi ada arti,
dan caramu menghela nafas sama sekali tidak membantu,
kau hanya mampu memeluk diri,
dan berharap seadanya.

Rasa pilu jelas menelusuki hampir seluruh tubuhmu,
yang kau mau hanya harapan itu,
yang sering mereka bilang hangat.
Dan lagi-lagi kau berucap "dingin",
sembari semakin memeluki tubuhmu.

Kau menggerutu lagi,
karena ini benar-benar dingin,
selendangmu tak pernah mampu menghangatkan,
bahumu lemah sudah,
dan kakimu tak mampu lagi menapak.

Bibirmu bergetar sudah,
menerka-nerka apa yang dibalik pintu,
dinginkah? hangatkah? atau panaskah?
kau menerka-nerka,
semoga bukan dingin, katamu.

Kau diam.
Merasa begitu kedinginan.
Tak mampu lagi melangkah,
namun lelah bertahan.
Kau cuma kedinginan.

Kamis, 20 Maret 2014

Hanya Ingin Sekedar Pergi

Hanya ingin sekedar pergi
terlepas dari apa yang dirasa beban,
menjauh dari semua degupan rasa,
kerisauan rasa,
dan ketidakmampuan bertahan.

Setiap memulai,
selalu merasa ada yang tidak tepat,
seperti kehilangan
walau semua tampak utuh,
selalu bertanya disetiap detik.

Ketidakberdayaan tak pernah bisa jadi alasan,
keraguan hanya penghalang,
langkah seringkali tak pernah pasti,
menempa diri sekuat apapun,
kalau tidak mau, harus bagaimana?

Hanya ingin sekedar pergi,
mencari jalan lain,
keluar dari pemikiran-pemikiran tertahan,
jauh dari lelah di 'sini',
dan menerjang sepi.

Seharusnya ia tahu,
mereka tahu,
lelap selalu merugikan,
dan hampa sering menjadi jawaban,
jangan lama-lama diam.

Sungguh.
Hanya ingin sekedar pergi.


Sabtu, 30 November 2013

BALADEWA

Kenapa Baladewa? Karena dia keras kepala.
Kenapa keras kepala? karena dia Baladewa.

Dan hari itu kau akan melihat Baladewa melangkah,
bukan ke arahmu,
bukan ke tempatmu,
namun ke ujung jalan itu,
ke yang paling sunyi itu.

Ia sering sekali berteriak,
seringkali memaki,
dan mengeraskan hatinya,
untuk tetap pada prinsipnya.

Jiwanya keras bagai batu,
wataknya tak kalah keras,
Ia akan begitu mudah marah,
begitu mudah kesal,
namun begitu mudah menangis.

Marahnya adalah tangis kecewa,
dan makiannya adalah harapan pupus.
Ia mencintai keadilan,
tapi sering salah mengartikannya.
sering salah memaknainya.
Dan ketika salah ia akan memaki.

di ujung jalan itu ia akan terdiam,
jauh dari hal yang dibencinya.
menangisi yang gagal ia damaikan,
dan berjanji kembali saat semua usai.


Selimut Kelabu

terik itu bagai membekap,
menyesapkan kilau yang merekat,
tak pernah mau terlepas,
dan seenaknya menyikut keras.

ribuan detik menjadi penuh makna,
namun pagar begitu kuat menghalang,
menyentak keras tentang keinginan,
dan berterbangan seperti angin musim gugur.

ia seringkali menyatu dengan isyarat,
membelai seperti angin yang terlewat,
lalu begitu saja menghilang,
berlalu menemani awan menjelang senja.

gelap adalah yang paling ia hindari,
dan itulah mengapa ia mencintai bintang,
begitu mudah memaki malam bila mendung,

dan membenci bulan yang berselimut kelabu.

Minggu, 08 September 2013

Tentang Kata "Menjelang"

dan aku melihat matahari berwarna jingga,
memeluk keindahannya pada pagi,
yang dikelilingi separuh awan merah cerah.
tersenyum menyambut hari yang akan dimulai,
lalu melambai memberikan cahaya tak menyilaukannya. 


Ia tak akan lama-lama seperti itu,
karena waktunya telah ditentukan,
dan kedatangannya bukan ingin memberikan kehangatan,
tapi kelembutan cahaya.


seperti senja menjelang sore. 
Penikmatnya seringkali adalah penikmat gelap,
yang bersandar pada sunyi,
yang mencintai terang tanpa cahaya
dan menghayati semesta,
tentang kata "menjelang"