Selasa, 16 Oktober 2012

Maka jika aku memiliki kesempatan, aku masih ingin menjelajahi pulau jawa.
Bukan aku tak ingin pergi ke luar pulau atau ke tempat lain.
Tapi keindahan disini masih belum tersingkap semua olehku.
Dan setiap aku mendapati keindahan dipulau jawa.
Aku selalu terbungkam bisu.
Memang benar kata banyak orang.
Kau tak perlu jauh-jauh untuk melihat keindahan.
Tapi untuk mendapatkannnya...
Kau memang harus mencari :)

Jumat, 07 September 2012

'Back to Normal' itu aneh

Akhirnya kita mulai dapat berbincang-bincang lagi,
mulai membicarakan banyak hal yang dulu juga sering kita bicarakan.
Tertawa seperti biasa.
Aku baru benar-benar tau ini yang namanya kembali ke normal.
Ternyata rasanya aneh.
Dulu aku pernah berharap seperti ini,
tapi saat kesampaian, aku malah sedih.
Mungkin ini hanya awal dari rasanya kembali ke normal.
Yah.. mungkin memang harus begini.

Dulu aku terlalu bermain-main dengan waktu.
Saat akhirnya nyala terang itu hilang,
aku malah termangu sepi dalam gelap.
Untaian kata yang tersusun dimasa lalu,
sudah tak menjadi guna.
Semuanya hanya akan menjadi fosil,
yang mungkin atau tak mungkin terkuak.
Maka tersembunyilah fosil itu,
dalam endapan tanah terdalam.

Yang aku tahu,
semuanya butuh proses.
Ya, aku sangat membutuhkan pemahaman.
Proses bagaimanakah yang seharusnya?
Hanya waktu yang bisa menjawab.

Menjalani memang tak semudah bicara.
Pemikiran-pemikiran menjadi tak logis.
Haruskah ada yang namanya 'Back to Normal?'
Sedang itu membuatnya menjadi tidak rasional.
Lagi-lagi aku butuh waktu yang menjawab.
Lagi-lagi proses, lagi-lagi pandangan.
Aku menunggu.
Menunggu waktu.
Sedikit mensesalkan 'Back to Normal'.

Kamis, 06 September 2012

Haruskah Aku Terbang atau Menjejaki Bumi?



Nyatanya semuanya tidak semudah seperti apa yang dipikirkan. Saat aku sudah berlama-lama terduduk dan terbang di atas awan, akhirnya aku mulai menjajaki bumi, dan melangkah diatasnya. Semuanya terasa berbeda dan tak akan pernah ada yang sama. Tertawa pun menjadi sangat berbeda, dan segala kenangan seperti kembali dan menepuk pundakku. Aku tak ingin menoleh pada tepukan itu, tapi menahan rasa rindu akan masa lalu adalah sulit, dan itu membuatku menoleh, bahkan sampai membalikan badan. Aku sempat terdiam menatapnya, sedang peganganku hanya secangkir kopi yang isinya mau habis. Kali ini aku benar-benar terlarut, dan menyesali keputusanku turun dari awan untuk mencoba menjejaki bumi entah untuk keberapa kalinya.


Aku sedikit kekurangan nafas. Menyesali yang lalu adalah obat sesak nafas yang paling hebat, dan aku hanya butuh terbang untuk mencari nafas tambahan. Tapi kali ini 'mereka' menahanku. Rindu-rindu yang bergelombang seperti ombak besar telah menghanyutkanku, dan menarik seenaknya seolah aku harus ikut dengan mereka. Aku megap-megap dan tak mampu terbang lagi. Aku benar-benar terbawa arus, sedang kelihaian berenang tak akan berarti saat ombak sudah menerjang. Aku hanyut.


Begitu lama aku tenggelam dan berusaha untuk tak membuka mata pada air laut yang perih. Mencoba untuk naik ke permukaan sebisaku dengan mata terpejam. Tapi itu semua sia-sia. Aku harus membuka mata dan merasakan perihnya air laut masuk ke dalam mataku. Aku harus melihat ke atas, dan berusaha sebisaku mencapai permukaan dengan mata terbuka. Aku masih megap-megap. Bernafas yang benar masih sangat sulit, dan gelembung-gelembung air yang keluar dari mulutku sama sekali tak membantu, tapi aku yakin perlahan-lahan aku akan naik ke permukaan. Ya, cahaya itu sudah terlihat. Sinar matahari sudah masuk ke dalam air dan menyentuh kulitku. Aku pun sampai pada permukaan laut dan mendapati rakit kecil untuk kunaiki.


Namun, lagi-lagi aku di beri pilihan yang sulit. Haruskah aku mencari daratan, atau terbang lagi ke atas? sedang dua-duanya bisa mengeringkan tubuhku yang basah kuyup terkena air laut. Dengan cara yang kontras. Terbang menjauhi bumi dan bermain dengan mimpi, atau mencapai daratan yang jauh dan tanpa kejelasan tapi menjanjikan keindahan dan perubahan hebat?

Senin, 23 Juli 2012

Memainkan Waktu


Lama sekali kau terdiam atau bahkan tak ada kabarnya jauh disana. Yah, sebenarnya kau tidak jauh, jarak seperti itu masih sepele, tapi hatimu yang jauh. Sudah sulit diajak bicara. Awalnya aku pikir tak apa lah dengan keadaan kau yang seperti itu, mungkin kau butuh waktu, atau mungkin sudah muak dengan hal-hal yang tadinya kau anggap indah. Ya, awalnya aku pikir tak apa. Semuanya butuh proses, tapi nyatanya kau tidak tertebak. Apa aku yang terlalu bodoh? yah, awalnya lagi ku pikir ya sudahlah membiarkan kamu seperti ini.


Tapi nyatanya aku malah sering kepikiran. Aku sering terbangun setiap mengingatnya, rasanya seperti kembali ke masa lalu, disaat kau masih 'ada'. Aku jadi ikut mencari-cari apa yang terjadi, tapi aku sama sekali tak punya kunci apapun untuk membuka pintu-pintu jawaban itu. Yang aku pegang hanya pertanyaan-pertanyaan semu, atau pengandai-andaian yang sebenarnya berada pada kabut hitam. Kalau saja aku bisa jalan ke arahmu dengan mudah, mungkin aku sudah melakukannya. Tapi kita seperti magnet yang berbenturan, tidak lagi menyatu seperti dulu. Entahlah siapa yang mengubah diri. Yang aku tau pasti, aku sudah kehilangan banyak hal.


"Mari bicara" aku selalu mengatakan itu pada kau dari dulu. Tapi  tidak pernah kesampaian. Kapan kah kita bisa duduk bersama. Berdua saja. Berbicara dari hal-hal kecil, lalu mulai masuk pada intinya. Kau harus menjelaskan alasan-alasannya, dan aku pun akan melakukan hal yang sama. Jangan kau jauhkan dirimu, itu membuat semuanya tak selesai. Kau berbeda. Dulu kau tidak seperti ini, ya, setidaknya pada orang lain kau tidak pernah seperti ini. Kau pilih kasih.


Ya sudah, mungkin yang bisa aku lakukan hanya menunggu dan melanjutkan hal-hal lain yang belum aku selesaikan. Mungkin nanti akan ada waktunya. Aku mau bermain dengan waktu lagi. Hey, kau itu pendiam, atau mendiamkan diri?

Kamis, 19 Juli 2012

Langkahmu...

Hari ini, esok, dan seterusnya pasti indah. Aku yakin itu. Segala kesedihan akan terhapus dengan iringan waktu yang terus berjalan. Intinya jangan menyerah, karena semuanya akan terjawab jika kita berusaha menemukan jawabannya. Tapi jangan pernah terlalu fokus untuk temukan sebuah jawaban, selingi hal itu dengan hal lain. Hiduplah seperti manusia,  ya, karena kau manusia.

Gunakan nafasmu untuk mengontrol hidupmu. Jangan terlalu ditahan, hembuskanlah pelan-pelan, dan mulailah melanjutkan hidup. Tersenyumlah :)

Tidak ada larangan untuk menangis. Kau bisa menangis semaumu, tapi redakanlah sebisamu. Berusahalah. Ulurkan tangan bantuan kepada dirimu sendiri. Tarik dan bangkitkan ia dengan semangat. Berjalanlah pelan-pelan. Ingat, jangan terburu-buru dan membabi buta. Jalanan itu masih tidak rata, dan kau masih bisa mudah terjatuh. Lihat lagi jalan yang kau tempuh. Pelan-pelan saja.

Istirahatlah dikala lelah. Duduk dan tidurlah. Jangan kau paksa dirimu untuk terus berjalan dengan luka atau beban. Bersandarlah pada pohon teduh, dan pejamkan matamu barang sebentar.

Saatnya melanjutkan hidup... tataplah kedepan.... tak perlu sesali apapun. Ayo... berjalanlah... pelan-pelan... lalu berlari-lari kecil... dan temui sinar didepan sana....

Ingat, jangan pernah berlari-lari dipinggir jurang... banyak bebatuan disitu. Kau mana tau kalau kau tidak akan tersandung. Hindari jurang. Hindari terik panas terlalu banyak. Hindari Gelap tanpa cahaya. Hindari terlelap begitu lama.

Kamis, 05 Juli 2012

Tanpa Sadar Kau Nobatkan ia Menjadi 'Srikandi'




Ada pajangan Arjuna dikamarnya, dan kau bilang kau punya pajangan Srikandi. Kau sedikit agak menertawakan dirimu,dan malu-malu mengakuinya. Tapi yang kau berikan pajangan Arjuna itu tersenyum senang tak menyangka kau bisa seimut itu. Kau memang tau ia menyukai hal-hal tentang wayang, dan kau benar-benar tepat dengan memberikannya pajangan seperti itu. Seharusnya kau lihat bagaimana wajahnya tersenyum sambil memeluk pajangan kecil itu didadanya, ia senang dan menimang-menimang pajangan itu sambil tersenyum sipu. Seharusnya kau bisa lihat itu.

Sejak dulu ia memang mengagumi sosok Srikandi, dan ingin menjadi Srikandi. Dan kau berikan hadiah kecil itu, walaupun bukan tokoh Srikandi, tapi untuknya pajangan Arjuna itu membuatnya harus menjadi Srikandi. Kau tau? kau juga sudah menjadi Arjuna untuknya, dan ia sangat berusaha keras untuk benar-benar bisa menjadi Srikandi untukmu. Apapun itu, ia sangat ingin menjadi Srikandi.

Kau bisa dikatakan adalah salah satu sosok yang pantas disebut sebagai Arjuna. Bagaimana tidak? banyak sekali perempuan-perempuan mengagumimu, dan mengungkapkan cinta padamu. Awalnya itu membuatnya minder dan mengabaikan untuk menyukaimu, tapi mengabaikan sama sekali bukan hal mudah, dan nyatanya ia bertahan. Saat akhirnya ia tau kau juga menyukainya, kau tau apa yang ia lakukan?? Ia tersenyum nyaris setiap malam, merasa sosok Srikandi akan benar-benar komplit berada didirinya, seperti memenangkan suatu piala yang tak pernah ia bayangkan. Kau.

Tapi sayangnya Arjuna senang berkelana, dan kini mungkin ia sedang bertapa dalam kesendiriannya. Entah apa yang dicari. Arjuna kini tengah berpetualang terlalu lama di dalam dunianya yang berkabut putih, membiarkan Srikandi terdiam dan menanti dengan gusar. Banyak macam pikiran yang datang menakuti Srikandi, tapi terlalu gengsi bagi Srikandi untuk mengakuinya. Srikandi pun memutuskan tetap menjadi seperti sosok Srikandi yang dulu, walau hatinya sudah pasti rapuh. Masih banyak panggung yang harus ia hadapi.

Berjalan dengan impian menjadi Srikandi pun akhirnya ia coba dengan perlahan. Bagaimanapun juga, ia tetap ingin menjadi Srikandi, ada atau tidak ada kau. Ia ingin menjadi Srikandi, dan tanpa sengaja kau juga menobatkan itu padanya. Lalu apa? kini sudah tidak mungkin melepas sosok Srikandi dalam dirinya. Ia akan menjadi petarung kuat dan pantang menyerah, dengan hatinya yang tentu masih untuk Arjuna. Apa ada kisah cinta Srikandi yang lain? tidak ada bukan. Ya.. kini sosok Srikandi sudah bersemayam dalam dirinya. Mendekap prinsip. Tidak  menyalahkan Arjuna yang berkelana.


Sumber gambar pertama : Google

Rabu, 04 Juli 2012

Wayang Orang Modern Garapan Swargaloka



Siapa bilang nonton wayang itu membosankan dan sulit dimengerti? sekarang ini bukan lagi menjadi alasan. Wayang garapan Swargaloka bisa menjadi alternatif pilihan buat orang-orang yang baru mengenal salah satu budaya Jawa, yaitu wayang. Wayang orang yang ditampilkan bisa dikatakan cukup modern karena menggunakan bahasa Indonesia dan baju-baju penokohan wayang yang mereka gunakan juga bisa dibilang beda dari yang lain, tapi sangat menarik. Saya baru 2 kali nonton pertunjukan wayang orang garapan Swargaloka, yaitu dengan judul 'Sumpah Abimanyu' dan 'Kidung Cinta Suryatmaja Surtikanthi', dan saya selalu dibuat terkesima dengan pertunjukan tersebut.

Pertunjukan yang diberikan oleh Swargaloka juga tidak begitu lama, sangat pas sekali buat anda-anda yang mau belajar tentang wayang dan mendapat makna dari cerita wayang tersebut, kurang lebih sekitar 2 jam. Komplit. Penyajiannya memang cukup modern, tapi khas wayangnya masih sangat bisa didapat karena suara gamelan dan penceritaannya pun masih sangat kental khas wayang, bedanya cuma dibahasa yang menggunakan bahasa Indonesia dan beberapa aspek lain yang  sebenarnya saya bingung untuk menjelaskan. hehe.



Dari info yang saya dapat, beberapa pemain Swargaloka berasal dari ISI Solo loh dan beberapa dari mereka pula bisa dibilang sudah sangat terkenal didunia perwayangan seperti bapak Ali Marsudi, Ibu Dewi Sulastri, dan bapak Agus Prasetyo. Wah, mereka bertiga adalah yang paling saya favoritkan dalam pertunjukan wayang disini.hehe. Entahlah, mereka selalu membuat saya terkesima sampai rasanya saya enggak mau pertunjukan ini berakhir. Tapi, bukan berarti pemain atau penari yang lain tidak membuat saya terkesima, saya malah sangat mengagumi mereka, tarian dan tokoh yang mereka mainkan selalu menjadi pelengkap yang sangat menyenangkan dan bermakna. Cara mereka semua menari saja sudah ada punya arti yang sulit di ungkapkan kata-kata, rasanya jadi menyesal dulu saya enggak belajar nari.hehee. Ya sudahlah, mungkin melihat mereka saja sudah cukup membuat saya terkagum-kagum dan enggak boleh menyesali masa lalu. *tsahhh.





Nah, seperti yang saya bilang diawal, wayang garapan Swargaloka ini bisa dijadikan alternatif yang baik untuk mencoba mengenal wayang orang. Selain menggunakan bahasa Indonesia, waktu yang pertunjukannya juga tepat, karena pementasannya biasa dimulai dari pukul 3 sore. Intinya, jangan terus-terusan berfikir kalau wayang itu membosankan. Dulu saya juga berfikir wayang itu membosankan kok walaupun udah pernah nonton berkali-kali ditelevisi dan langsung. Tapi sekarang? hehehe. Tau sendiri kan... Pokoknya coba dulu untuk kenal dan suka, setelah itu terserah anda. :)

With Bapak Ali Marsudi dan Ibu Dewi Sulastri