Sabtu, 25 Februari 2012

Dilema seorang Begawan Wisrawa



Jika sedikit mengetahui tentang Wisrawa, mungkin kita juga akan mengetahui betapa dilemanya ia saat melakukan sayembara untuk mendapatkan dewi Sukesi yang awalnya diperuntukan untuk anaknya, Raden Danapati. Wisrawa tentulah hanya manusia biasa dalam segala kesempurnaan yang ia miliki, karena nyatanya ia juga bisa dilema, dan itu melemahkannya dalam pendirian.

Wisrawa mampu memenangkan semua tantangan untuk mendapatkan Dewi Sukesi, hingga di akhir tantangan sang dewi memintanya untuk mengajarkan tentang ilmu "Sastra Jendra Hayuningrat", dan dalam mempelajari sebuah ilmu ini tentulah dibutuhkan bimbingan yang khusus antara Wisrawa dan dewi Sukesi. Pembelajaran tentang ilmu ini menjadikan mereka lebih mengenal dan saling mengagumi satu sama lain. Tanpa di pungkiri lagi, akhirnya mereka jatuh cinta. Bukankah cinta memang datang seperti itu? Karena cinta hadir ketika kau mengenalnya. Dan disini Wisrawa merasakan hal seperti itu. Mengenal dewi Sukesi membuatnya menjadi mencintainya, begitupun sebaliknya dengan dewi Sukesi sendiri. Mereka saling jatuh cinta di saat yang tidak semestinya, tapi dengan proses yang memang semestinya.

Ada keraguan dan bimbang yang dirasakan Wisrawa saat meminang dewi Sukesi. Ini bukanlah hal yang ia inginkan pada awalnya, tapi ia putuskan karena Wisrawa tak mampu mengontrol atau menahan rasa cintanya pada Sukesi. Ia tepiskan segala keraguan dan memastikan hatinya untuk meminang Sukesi. Ia mencintai Sukesi, begitupun Sukesi mencintainya... lalu apalagi? Dalam pemikirannya, ia telah menyerahkan semuanya pada waktu.

Nyatanya keegoisan memenangkan semuanya. Karena cinta juga memang egois kan?

Wisrawa tidaklah harus disalahkan sepenuhnya, karena cinta berperan besar dalam kisah ini. Meskipun pada akhirnya ia menjadikan hubungannya dengan anaknya menjadi buruk, Wisrawa menyadari ini sepenuhnya dan rela akan keputusan apapun dari anaknya teruntuk dirinya. Ada kesedihan mendalam yang membuatnya begitu merasa bersalah, tapi cinta tak mampu ditahannya. Wisrawa hanya manusia biasa dengan segala kekhilafan dan nafsu hidup. Tapi ia dan dewi Sukesi mampu menyadarinya. Terlebih ketika mereka di karuniai anak berwujud raksasa seperti Rahwana dan Kumbakarna, lalu anak perempuan berwajah buruk rupa bernama Saparkenaka. Mereka segera bertobat dan memohon ampun atas akan kesalahan dan kekhilafan mereka di masa lalu. Hingga pada akhirnya, lahirlah anak terakhir mereka dengan wujud ksatria yang berbudi luhur, tampan, dan berbakti kepada orangtua dan Tuhan, yang diberi nama Gunawan Wibisana.

Saat khilaf, manusia masih punya waktu untuk menyadari dan bertobat. Semuanya bisa menjadi indah pada akhirnya bukan?.

Senin, 20 Februari 2012

........

"Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karena dia karena dia begitu indah"
-PADI (BEGITU INDAH)- 

Sabtu, 18 Februari 2012

.......

"Arjunaaa.... Menjelmah lah menjadi Rama!
Agar tidak banyak sosok wanita yang kau pikirkan.
Agar hanya Sinta yang ada didalam hatimu... :)"

Lagi-lagi Arjuna..

Apa Arjuna benar-benar bisa memahami seseorang?
atau kebaikannya lah yang membuat orang sering salah paham.
Sosok Arjuna terlalu baik.
Mungkin ia terlalu memikirkan perasaan orang lain,
sehingga ada hal yang terkadang dia tidak bisa mengerti dalam hal lain.
Andai seorang Arjuna bisa lebih terbuka.
Tapi bagaimana?
Bagaimana seorang berbudi luhur yang nyaris sempurna sepertinya menunjukan hal yang spesial?


Bagaimana mungkin ia tidak menjadi sosok pujaan.
Jika senyumnya nyaris seperti bintang.
Memberikan sinar pada yang melihatnya.
Menjadikannya terpukau dan ingin memilikinya.


Arjuna...
Seharusnya dia mengerti,
betapa banyak yang mengharap padanya.
Tapi hatinya sulit tertebak.
Bahkan saat dia sudah mengungkapkannya.
Itupun masih sulit.


Arjuna...
Ia memang  bintang dengan kabut disekitarnya.

Walaupun bersinar terang,
Kabut-kabut itu seolah menutup rahasianya.
Dibalik semua ketenangannya.
Menjadikannya tanya.
Tanpa jawab.
Hanya terdiam dalam keindahannya.

Selasa, 14 Februari 2012

Kali ini tentang Arjuna.....

Kali ini Arjuna...
Arjuna....
Entah aku harus menyebutnya apa.. karena jelas gambar yang tertera adalah gambar Arjuna.
Namun semuanya tersirat untuk siapa aku menyebutnya Arjuna, kuharap gambar ini dapat menjelaskannya.
Lagi-lagi cuma bisa tersenyum dan mengucapkan ribuan terima kasih.
Andai si Arjuna membaca ini....
Banyak kata tak terungkap...
Hei, sang Arjuna yang berkata bahwa ia juga menyimpan Srikandi..
Masih kau simpankah Srikandi-mu itu?
Atau sudah kau hempaskan entah kemana?
Aku harap kau menyimpannya, karena Arjuna juga masih ku simpan. ;)


Arjuna, apa kau tau kisah sebenarnya tentang Arjuna dan Srikandi?
Aku pernah membacanya, dan ada dua versi yang aku dapat.
Arjuna dan Srikandi memang bersama,
dan,
Arjuna dan Srikandi tidak pernah bersama.
Kau tau,sebenarnya aku takut menyimpan ini.
Takut akan mendapat versi yang tidak aku inginkan dari Arjuna dan Srikandi.
Setidaknya dulu kau pernah berfikir kalau Arjuna dan Srikandi bersatu,
dan sekarang aku yang berfikir seperti itu.
Lucu bukan? disaat semuanya mulai tampak aneh aku justru mengharapkannya.
Tapi, aku terpaksa diam.
Dan nyatanya kau juga diam.


Andai dulu Arjuna tau...
Betapa mudahnya untuk memutuskan,
tapi berat melihat betapa banyaknya yang harus dipikirkan.
Namun sekarang baru terasa betapa menyesalnya menahan keputusan.
Tapi Arjuna tetap terdiam...
Tak ada tanya...
Membuatku berfikir Arjuna ingin lupakan semuanya.
Benarkah?
Tak bisakah ada obrolan sejenak.
Agar semuanya selesai.
Agar kita bisa menemukan versi Arjuna dan Srikandi manakah yang akan kita temui.

Kamis, 29 Desember 2011

Rama Wijaya atau Arjuna??


RAMA WIJAYA


Kalian pasti pernah mendengar beberapa orang khususnya wanita berkata " ahhh.. dia Arjuna gue!" atau " ya ampun, gantengnya kayak Arjuna, ngalahin Arjuna malah!" atau blaa...blaa... yang menggunakan kata 'Arjuna'. Biasanya kata 'Arjuna' ini sering di sebutkan untuk menggambarkan untuk orang ganteng alias tampan alias mempesona. Khususnya laki-laki pasti mau kalau ganteng-nya di bilang kayak Arjuna. Ya kan? ya.. setau saya sih gitu. haha. 

Ya, seperti yang kita tahu, Arjuna adalah tokoh wayang yang bisa di bilang terkenal karena ketampanannya. Dia termasuk dalam pandawa lima yang terdiri dari Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan termasuk salah satu anak dari pasangan Raja Pandu Dewanata dan Kunti Talibrata. Kalau ditanya siapa yang paling ganteng dalam tokoh pandawa ini tentulah jawabannya Arjuna. Tapi kalau kalian yang baca ini baru tau kalau Arjuna itu tokoh wayang yang terkenal kegantengannya dalam cerita wayang, ya sudah, anggap saja memang kenyataannya Arjuna itu tokoh ganteng. Kenapa? ya... karena rata-rata di cerita wayang menggambarkan kalau Arjuna itu ganteng.

ARJUNA

Tidak, tidak... disini saya tidak akan membahas tentang Arjuna terlalu detail karena saya juga ingin membahas tentang Rama Wijaya. Tahukah kalian siapa Rama Wijaya? kalau saya sebut Ramayana atau Rama-Shinta pasti kalian langsung mengenal sosok siapa Rama Wijaya itu. Rama Wijaya adalah anak pertama dari pasangan Raja Dasarata dan Kesalya. Kalau di tanya soal ketampannya, rasanya tidak jauh dengan Arjuna. Dalam buku-buku Ramayana juga menggambarkan sosok Rama Wijaya yang terlahir tampan dan juga berasal dari keturunan yang baik seperti Arjuna. Lalu, apa yang sebenarnya membedakan mereka? mudahnya sih... mereka berada dalam cerita berbeda. Kalau Rama Wijaya berada dalam cerita Ramayana, sedangkan Arjuna berada dalam cerita Mahabharata. hahaha. Sebenarnya bukan hanya itu yang ingin saya perjelas tentang mereka berdua. Mari kita coba bandingkan kedua orang tampan ini (jangan terpengaruh sama gambar wayang orangnya ya!) dengan cerita-cerita yang sering saya dengar atau baca tentang mereka berdua, yang hanya akan saya sebutkan secara singkat.

Sebenarnya cukup banyak kesamaan dari mereka berdua ini. Pertama kita lihat dari nama mereka yang sama-sama punya banyak nama. Rama Wijaya memiliki nama lain seperti Ramadewa, Ramabadra, Ramaragawa, dll, dan Arjuna yang memiliki nama lain Permadi, Janoko, Partha, dll. Kita juga bisa liat dari asal usul mereka yang sama-sama keturunan raja. Rama Wijaya dari kerajaan Ayodya, dan Arjuna dari kerajaan Hastinapura. Kalau wajah tidak di ragukan lagi mereka berdua tentulah sama-sama tampan. Bagaimana dengan karakternya? wah, jangan di ragukan, sama-sama berbudi luhur, santun dalam bersikap, berilmu, dan tidak sombong (itu bahasa versi saya. ;p). Kehebatannya pun sama-sama pintar memanah, Rama Wijaya punya panah Guma Wijaya, dan Arjuna punya panah Gandewa . Hubungan mereka sama dewa Wisnu juga sangat dekat, Rama Wijaya merupakan titisan dari dewa Wisnu, sedangkan Arjuna bersahabat dekat dengan Sri Kresna yang juga titisan dewa Wisnu. Keren bukan? intinya mereka berdua enggak jauh-jauh dari dewa Wisnu! Mereka berdua juga sama-sama terlibat dalam perang besar, seperti Rama Wijaya dengan pasukan kera yang melawan pasukan Kerajaan Alengka, dan Arjuna yang terlibat dalam perang Bharatayuda melawan Kurawa dan pasukannya. Kalau di perhatikan lagi mereka berdua memang sangat patut di idam-idamkan, bagaimana tidak? kalau bisa di sebutkan dengan kata-kata, mereka bisa di bilang nyaris sangat sempurna. Semua yang wanita inginkan dalam sosok laki-laki ada dalam diri mereka. Udah kaya, pinter, jago, tampan pula! ;D

Nah, bagaimana dengan perbedaannya selain berbeda dalam cerita? hehhee. Di sini saya cuma mau bandingin satu hal dari mereka, yaitu ISTRINYA! Pernah dengar kalau Rama Wijaya punya istri selain Dewi Shinta? enggak kan? pastinya enggak. Ya seperti yang kita tahu, banyak banget yang tahu tentang cerita Rama-Shinta, kayaknya aneh kalau orang enggak pernah denger cerita ini atau seenggaknya nama Rama-Shinta, kan dulu  di dufan juga pernah ada satu wahana yang namanya Rama-Shinta. Nah, tau kan? ;p. Kenapa terkenal banget dengan nama Rama-Shinta? ya karena istri Rama cuma Shinta, enggak ada yang lain.hehe. Dalam cerita Ramayana kita bisa tahu betapa Rama ingin menyelamatkan istrinya Shinta yang di culik oleh Rahwana, ia pun bertekad keras untuk bisa menyelamatkan Shinta sekaligus menghapus segala angkara murka yang ada di dunia. Kesetiaan Rama terhadap istrinya juga sangat tidak bisa di ragukan, coba bayangkan... 13 tahun berpisah!!! tapi Rama masih mencintai Shinta. Sweettttt...

Bagaimana dengan Arjuna?? hehe. Pasti banyak orang tau kalau Arjuna itu punya istri banyak, ada yang namanya Sumbadra, Larasati, Srikandi (dalam cerita wayang ada dua versi tentang Srikandi adalah istri Arjuna, dan ada juga yang menyebutkan Srikandi bukan istri Arjuna), Dewi Dresnala, dll. Di sini bukan berarti saya mau bilang kalau Arjuna itu playboy, karena itu bisa di bilang salah. Sepengetahuan saya tentang Arjuna dari buku-buku dan cerita yang saya dengar, dia itu sebenarnya tidak bisa di sebut sebagai laki-laki yang suka mainin banyak perempuan. Konon di jaman dahulu seorang raja atau turunan raja di haruskan memiliki istri lebih dari satu untuk di lihat keturunanya, bukan hanya karena ingin memenuhi hasrat. Selain itu, saya sering dengar kalau kebanyakan wanita-wanita ini lah yang justru meminta duluan untuk di nikahi Arjuna agar memiliki keturunan dan sosok manusia seperti Arjuna. Jadi, dalam hal ini tidak sepenuhnya salah Arjuna, karena bagaimanapun juga ada banyak alasan di balik sosok Arjuna yang punya banyak istru yang belum bisa di perjelaskan. :)

So, bagaimana? sudah cukup kenal kan sama mereka berdua? :D
Kalau menurut saya sih, agak bosan juga menyebut orang yang kita idola-idola kan itu dengan Arjuna, bukan berarti saya enggak suka Arjuna. Tentulah saya suka sekali sama tokoh Arjuna, tapi entah kenapa saya masih sangat terlena dengan tokoh Rama Wijaya.hehehe. Jadi, ketika suatu saat nanti saya suka sama orang, saya enggak akan menyebutnya sebagai " Arjuna-ku", rasanya lebih tepat kalau di sebut "Rama Wijaya-ku". Takut ah kalau nyebut Arjuna, ntar malah di duain, eh bisa di tigain malah.hahha. *piss

Salam budaya!

Selasa, 27 Desember 2011

Mengenal Dewi Shinta



Pastilah kalian cukup tau siapa tokoh Shinta. Dalam tokoh pewayangan Dewi Shinta di kenal sebagai istri dari Rama Wijaya ( titisan dewa Wisnu). Ia adalah putri dari kerajaan Mantili yang terkenal karena kecantikan, kepiawaiannya dalam bernyanyi dan budi luhurnya dalam bersikap. Dalam cerita Ramayana, Shinta menjadi istri seorang Rama Wijaya setelah Rama memenangkan sayembara yang di adakan oleh Raja Janaka selaku ayah dari Dewi Shinta.


Tentulah menikah dengan seorang titisan dewa Wisnu adalah hal yang luar biasa yang di alami oleh Shinta, namun hal-hal luar biasa tersebut tidaklah selalu menyenangkan. Suami Shinta, Rama, adalah suami yang setia, berbudi luhur, bijaksana, santun dalam berucap, memiliki ilmu yang hebat,berpendirian teguh  dan juga calon Raja dari kerajaan Ayodya  justru harus di buang dari kerajaan dan memberikan posisi putra Mahkota kepada adiknya yang bernama Raden Bharata. Ada kesedihan yang dalam di hati Shinta melihat suaminya harus melakukan masa pembuangan selama 13 tahun. Merasa dirinya adalah milik Rama sepenuhnya, dengan tulus hati Shinta ikut dalam pembuangannya bersama Rama, walau sebenarnya Rama kurang berkenan dalam hal ini, tapi Shinta memaksa ikut karena cintanya yang besar terhadap Rama.

Masa pembuangan tentulah harus mengalami banyak rintangan dan halangan, seperti menghadapi hutan-hutan yang tidak terketahui rimbanya. Namun, Shinta tidak pernah berkeluh kesah atau bermanja-manja dalam menemani Rama yang harus menghadapi masa pembuangan. Baginya, selama dirinya bersama Rama dia selalu merasa bahagia dan nyaman walau harus menahan rasa takut yang luar biasa saat menghadapi banyak rintangan atau musuh-musuh yang harus di hadapi oleh Rama dan Lesmana adiknya.

Pasti kalian pernah dengar kan tentang Shinta yang di culik Rahwana? ya...  bisa di lihat kalau sebenarnya ini adalah kesalahan ia sendiri hingga bisa di culik oleh Rahwana. Shinta meminta kepada Rama untuk di tangkapkan seekor Kijang Kencana yang tampak jinak saat itu. Saat mengetahui suaminya tidak lekas kembali, ia meminta Lesmana untuk menyusul Rama, tapi Lesmana memegang teguh janjinya pada Rama untuk tetap menjaga dan melindungi Shinta selama Rama tidak ada. Shinta sudah begitu cemas, dan kesal karena Lesmana tidak mau menyusul Rama, hingga keluarlah ucapan tajam dari Shinta bahwa Lesmana tidak mau menyusul Rama karena berharap Rama mati dan Lesmana bisa menikahinya. Ucapan Shinta membuat Lesmana terkejut akan ucapannya itu, segera ia pergi mencari  Rama untuk membuktikan bahwa ucapan Shinta adalah tidak benar dan tidak pernah terfikir olehnya. Di berikannya Shinta  lingkaran perlindungan oleh Lesmana, dan Lesmana sudah meminta Shinta untuk tidak pernah keluar dari lingkaran itu. Tapi apalah daya.... Shinta yang berbudi luhur dan baik itu itu tidak sadar telah keluar lingkaran saat ingin memberikan sedekah kepada pengemis yang ternyata adalah Rahwana.

Selama masa penculikan,  Shinta selalu bersedih hati merindukan suaminya. Ia menyesali semua yang pernah ia lakukan. Cintanya pada Rama pun tidak pernah hilang sampai kapanpun meski Rahwana berkali-kali merayu dan menghina tentang Rama. Shinta tetap berpegang teguh untuk mencintai Rama Wijaya. Tak pernah sedikitpun ia mencoba untuk melupakan Rama, karena baginya Rama adalah suami dimana seharusnya Shinta mengabdi.

" Hai Shinta! apa sebab engkau selalu menolak kehendakku Carilah tandingnya di seluruh mayapada ini, apakah ada yang menandingi diriku? Pernahkah engkau mendengar atau melihat seorang raja menggempur kahyangan dan merampas bidadari, selain aku, Rahwana, Raja Alengka? Dewa Surapati pernah kutawan. Empat bidadari kurampas dan kubawa mendarat. Kereta Suralaya kuangkut sebagai barang rampasan."

" Rahwana, dengarkan kata-kataku," jawab Sinta dengan tenang. "Seorang wanita hidup untuk di pilih dan memilih. Bila sudah menjatuhkan pilihan, dialah seluruh hidupnya."

"Rama maksudmu?" potong Rahwana garang.

"Benar. Aku sudah memilik kakanda Rama sebagai suamiku. Dan aku akan menjadi istrinya selama hidupku."

(Sumber buku : " Hamba Sebut Paduka Ramadewa" oleh Herman Pratikto : 1983)

Dari ucapan Shinta di atas, kita bisa melihat betapa Shinta sangat mencintai Rama dan akan terus mengabdi padanya. Ia tak pernah membiarkan sejengkal pun Rahwana menyentuhnya. Walau pada akhir cerita, Rama meragukan akan kesucian Shinta, tapi dengan hati yang walaupun pilu Shinta memutuskan untuk membakar dirinya di api untuk membuktikan kesuciannya.

Semuanya terbukti, dan Shinta masih suci.

*Sumber lain : Buku "Ramayana" oleh Wawan Susetya  (2008) dan "75 Pemimpin Wayang Inspiratif" oleh Wisnu Dewabrata  (2011)