Rabu, 03 Desember 2014

Aku merasa...

aku merasa... bahwa sebenarnya apa yang aku lakukan seringkali salah, aku melangkah pada hal yang aku kira adalah yang kusukai dan mampu aku jalani. Tapi, rasanya malah jadi berat karena beban hidup nyatanya masih akan ada mau tidak mau. Pertaruhan selalu menjelma menjadi keinginan dan kebencian, dan aku terbuai pada rasa keras kepala yang bahkan aku sendiri sulit membedakan apa itu mimpi dan obsesi.

aku merasa... menulis adalah cara paling mudah berekspresi, walau nyatanya masih banyak yang belum memahami. Tulisan-tulisan itu belum tentu selalu bisa selalu mewakili, tapi yang paling mampu membantu mencurahkan walaupun jadinya hanya tulisan cakar ayam tidak terbaca.

aku merasa... ada yang salah dalam pemikiran dan ideologi yang aku punya. Ternyata aku terlalu lama terlelap pada kisah yang aku pikir semua orang bisa dapatkan.

aku merasa... buat apa keramaian ada, kalau ternyata yang dirasa tetap rasa sepi. Mereka bisa asik tertawa, menunjukan betapa eksisnya mereka dalam kehidupan, sedangkan aku hanya mampu tertawa melihat diri sendiri yang mungkin lebih baik 'hilang' saja.

aku merasa... bahwa pertemanan akan sangat membantu dan menjadikan hidup lebih dari sekedar kata 'ramai'. Teman seolah menjadi kebutuhan, yang kalau tidak punya maka kau akan kesepian. Walaupun ternyata, terkadang beberapa teman adalah hal yang paling kau tidak sadari, yang ternyata harus kau 'lepas' dan buang jauh-jauh. 

aku merasa... rindu itu hal yang paling ingin aku hindari. Betapa rasanya hanya seorang diri yang merindu, sedang mereka asik menghabiskan waktu.

aku merasa... betapa topeng adalah hal yang paling pantas aku kenakan sekarang. Bukan menjadikan pura-pura baik, tapi pura-pura bahagia.

aku merasa... memang semua ada waktunya. Terlalu lama berkeiginan, terlalu lama bersenang-senang, terlalu lama hidup dalam ramai, terlalu lama merasa rindu, dan terlalu lama tidak menyadari kalau waktu akan berjalan, sehingga sekarang aku 'kesepian' melihat betapa sudah begitu lama aku tidak bercermin.

MARATAHON WAYANG ORANG DI WOSBI 2014!

Solo! Jangan tanya alasan kenapa mendadak berencana pergi ke SOLO? Tentu saja karena ada WOSBI 2014! Dulu waktu tahun 2011 enggak kesampean bisa nonton WOSBI, dan pernah berharap kalau acara ini ada lagi, dan… teng… teng…  teng… nyatanya memang adalagi. ALHAMDULILLAH. Awalnya berencana pergi sebenarnya sudah lama, tapi persiapannya bener-bener mendadak karena galau sama jadwal. Hehehe. Tapi memang sudah jalannya untuk pergi, dan berangkatlah ke Solooooo.



Baru sampai di Solo memang terasa cukup cape, tapi ternyata kebayar sama pertunjukan WOSBI yang menyajikan pementasan wayang orang dari kumpulan seniman wayang dari berbagai tempat. Bayangkan saja ada banyaaakk banget pementasan, dan acara ini pas banget buat penikmat dan pecinta wayang orang. Buat orang-orang yang baru mengenal wayang orang juga cukup pas, karena dari acara ini mereka diperkenalkan pada pementasan wayang orang, dan pastinya akan takjub melihat betapa pementasan yang dimainkan sangat menakjubkan dengan penyuguhan cerita dan tarian wayang yang indah, klasik, dan anggun.  Semoga yang baru mengenal wayang orang bisa terbuka mata dan hatinya bahwa pertunjukan wayang orang bukan sekedar pertunjukan biasa, tapi juga banyak sekali moral-moral kehidupan yang tertanam pada penceritaan. Mau bukti? Mending coba nonton langsung! :D



Hal segar yang ditampilkan WOSBI bukan hanya tentang pementasannya saja, tapi banyak juga anak-anak generasi wayang orang yang masih muda-muda yang ikut berpartisipasi dalam pertunjukan. Melihatnya saja sudah bikin kagum, masih muda tapi mampu ikut mempertahankan salah satu budaya Indonesia yang fenomenal ini. Rasanya mau peluk satu-satu para pemain muda itu, apalagi yang masih sangat kecil tapi sudah keren dalam memainkan peran. Aduuuh.. mau dibawa pulang aja. Hehehe. Beneran deh, penulis terharu banget betapa masih banyak generasi mudah yang masih mau tetap menjaga ‘identitas’ Indonesia dibalut budaya. Rasanya malu, karena penulis masih belum ada apa-apanya dibanding mereka.




Hari demi hari, pementasan demi pementasan yang dilaksanakan dari tanggal 13-16 November 2014 selalu mengesankan. Ada harapan semua acara seperti ini bisa terus ada sehingga pelan-pelan pun para pecinta wayang orang juga akan bertambah, dan semakin menunjukan bahwa wayang memang harus tetap hidup. Apalagi kemarin acaranya bisa dikatakan sukses! Wah… mudah-mudahan acara seperti bisa terus ada karena dengan adanya acara ini tentunya menunjukan eksistensi bahwa wayang orang masih berdiri tegak di era modern seperti ini. Berikut kutipan Bapak Ali Marsudi selaku ketua WOSBI yang di ambil dari “buku program” WOSBI 2014 yang menyatakan :

“ Agar jiwa kita bergetar… rasa kita tergugah..
 Semangat kita membara… hidup kita berwarna…
Rasa kemanusiaan serta jadi diri dan kemuliaan kita sebagai manusia tetap terjaga…
Maka wayang orang harus tetap ada…”


Kenapa beliau berbicara seperti itu? Yup, karena wayang orang harus tetap hidup di jaman yang modern ini. Wayang adalah sajian penuh makna yang kalau saja kita mau memperdalaminya, kita akan lihat betapa ada cerminan hidup yang bisa kita jadikan salah satu panutan. Bukan tentang melihat adanya seni dan keindahan yang tampak, tapi juga pelajaran hidup yang tersimpan dari setiap cerita, atau bahkan dari setiap tokoh-tokohnya. Oleh karena itu, yuk pertahankan warisan budaya ini! Salam budaya! Salam wayang!




foto : koleksi pribadi (maaf klo kurang bagus. maklum) ^!^

Rabu, 12 November 2014

Kau Hanya Butuh Satu Pelukan

Kamu hanya butuh diberi pelukan,
Ketika semua rasa membeludak menjadi amarah.
Ketika waktu begitu cepat berlari,
Sedang kamu terlelap pada langkah lambat-lambat.
Terlalu banyak beban yang kau rasa begitu memberatkan,
Walau nyatanya satu pelukan mampu membuka matamu,
Mengakui diri bahwa sebenarnya kamu tidak sendiri.

Kau bilang kau menanam rindu,
Yang sering kau maki karena tumbuh subur,
Padahal tidak pernah sekalipun kau beri air.
Dan sungguh  kau hanya butuh satu pelukan,
Untuk sekedar bersandar,
Walau akhirnya yang keluar adalah nangis meranamu.
Sesenggukanmu yang paling dalam.

Lalu kemudian kau menggumamkan lelah,
Membenci jalan yang sudah lama kau tapaki,
Memendam dendam pada diri sendiri,
Kau kesal setengah mati.
Tapi kemudian satu pelukan itu datang.
Mendadak kau lunglai tanpa daya,
Merasa hangat.

Sungguh, kau hanya butuh satu pelukan.
Untuk sekedar membungkam semua rasa ‘tidak terima’.

Jumat, 10 Oktober 2014

Aku Ingin Bicara

Aku Ingin Bicara. Mengenang betapa sinar rembulan bisa begitu indah, dan betapa besar keinginan aku untuk dapat berjalan seolah-olah merasa bahwa setiap langkah yang aku tapaki adalah rasa kagum pada gemerlap dimalam hari.

Aku ingin bicara. Matahari dipagi hari adalah kehangatan yang selalu ingin aku rasakan, selalu ingin aku genggam untuk tidak pernah pergi buru-buru.

Aku ingin bicara. Sungguh betapa besar rasa iri ingin bisa seperti mereka. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain memang melelahkan, tapi aku ingin setidaknya mendapat suatu ‘semangat’ yang mereka miliki.

Aku ingin bicara. Kalau saja rasa percaya diri bisa dengan mudah dibeli, aku akan beli.

Aku ingin bicara. Ada gumpalan rasa kagum yang membuat aku begitu bergairah saat mereka bisa begitu percaya padaku.

Aku ingin bicara. Sungguh, aku benci cara mereka.

Aku ingin bicara. Mencintai karya sastra adalah keindahan penuh makna yang mendera seperti butiran-butiran Kristal dalam darahku.

Aku ingin bicara. Memberitahu bahwa itu sebenarnya salah, dan aku jelas punya kebenaran yang bisa aku tunjukan.

Aku ingin berbicara. Mengomentari perkataan-perkataan itu, mencari solusi, memberi solusi, dan mendapatkan jawaban dari apa yang aku komentari.

Aku ingin bicara. Mengeluarkan hak untuk berpendapat.

Aku ingin bicara. Rasa ini sungguh sedang tidak asik.

Aku ingin bicara. Memuji dengan tulus dan memberikan suatu kepuasan pada apa yang dia/mereka buat atau pikirkan.

Aku ingin bicara. Merayu untuk membantuku mencapai keinginan.

Aku ingin bicara. Aku begitu mencintaimu.

Aku ingin bicara. Ada desakan kerinduan yang begitu menggejolak.

Aku ingin bicara. Bibirku tidak pernah bisa benar-benar bergerak.


Aku ingin bicara. 

Minggu, 07 September 2014

MENYANGKAL



Siapa yang mau tahu. Siapa yang tidak mau tahu. Siapa yang sadar. Siapa yang tidak sadar.

Anggap saja ada yang menyentil, tapi sebenarnya kamu tidak peduli atau pura-pura tidak paham arti sentilan itu. Memutar-mutar kata dan mencoba menjadikannya tidak tampak dan bergelut pada blablabla yang kamu anggak ‘ah apa sih’. Seribu cara untuk berlari dalam pengungkapan, menyerang pada diri menggunakan logika ketidakmungkinan. Anggap saja semuanya basi, anggap saja semuanya nihil, dan anggap saja semuanya hanya tang ting tung. Kamu menyangkal.

Lalu kemudian ada yang datang, bertanya kepastian, bertanya ada apa tentang ‘itu’. Sedikit terdiam, tapi hidup terlalu membuatmu pintar untuk mengalihkan pembicaraan. Mereka terkecoh, tapi kamu mengecohkan diri sendiri. Ada senyum bangga yang menunjukan betapa hebat pengalaman yang memampukanmu menolak semua pemikiran, menolak bicara lebih terbuka, dan menolak dirimu sendiri. Bermain-main pada kata-kata yang kau yakini akan menipu mereka? Atau sebenarnya untuk menipu dirimu sendiri? Kau tertawa sambil menggelengkan kepala. Percaya tidak percaya, kemudian kau akan berdiri pada sudut gelap itu. Setelah hari itu.

Baiklah, anggap saja semua akan berlalu secepat yang kamu yakini. Hidup akan kembali normal dan jauh dari apa yang kamu anggap tidak ada itu. Kamu akan bersenang-senang, akan menyapa dengan riang, dan akan tersenyum pada pagi. Akan ada nafas baru yang membuatmu percaya bahwa hidup barumu telah tiba dan siap menyambut. Bersorak riang, dan kemudian berpesta pada malam. Lalu… lalu… kamu lupa bahwa malam adalah waktu tenang, bukan seharusnya untuk bersenang-senang. Sedikit ‘klik’ saat akhirnya kamu sadar tidak seharunya berpesta diwaktu malam. Dan kemudian terdiam, ketika tampak di keramaian malam itu datang sesuatu yang seharusnya kamu hadapi saat tidur. Menyergap. Kemudian kamu megap-megap.

Mendadak pertanyaan-pertanyaan dimasa lampau menyerbu. Kamu memaki sekeras mungkin dan tidak mau alasan lagi. Kamu butuh tempat kosong, tapi tidak menemukannya secepat yang kau mau. Ada kemarahan memeluk jiwa, menjadikanmu terhenyuk seketika. Ah, kamu mengeluh dengan kesal. Lagi-lagi bermain hanya pada kata ‘tidak mungkin’, ‘tidak percaya’, dan ‘apa-apaan ini’. Setelah itu menepi pada malam-malam berkepanjangan, mengikuti sinar seadanya yang kamu pikir akan menunjukan jalan yang selama ini kamu anggap tidak ada. Kamu melihat ‘itu’ tapi tidak mau berjalan kesitu. Mendadak kamu menggigil. Kamu lari tanpa jeda.

“ Hobimu apa sih? “
“ Mencari cahaya.”
“ Untuk hidup? “
“ Ya ”
“ Sudah kamu temukan? “
“ Belum “
“ Ah, kamu menyangkal “
“ Hahahaha.”
“ Hahahaha.”


BASI.

Jumat, 05 September 2014

Menemukan



Kamu pasti menemukan aku. Tidak pernah jauh-jauh aku pergi, dan tidak bermaksud apa-apa. Hanya berlari-lari kecil yang tadinya aku harap bisa membuatku sedikit bernafas. Bukankah sebelumnya kau sering bertanya, kemana aku akan pergi ketika aku ingin menjadi si penikmat diam? Seharusnya kau tidak perlu bertanya, karena aku tau kau akan menemukan jalan ke tempatku. Sebenarnya ini terlalu mudah, dan aku bukan ingin bermain teka-teki. Nyatanya aku hanya ingin ditemukan, tidak berpura-pura berlari karena aku memang suka berlari. Salahnya, aku sering tidak sadar ingin lari kemana tapi ternyata hanya ke tempat itu-itu saja. Bukankah seharusnya itu hal yang mudah? Dalam pedoman hidupmu, jauh dari kata ‘sulit’ bukan? Maka kau pasti akan bisa dan tentu saja menemukan aku.

Rasanya indah sekali menjadi yang ditemukan, seolah akhirnya aku juga menemukan orang yang mau membawaku pulang. Karena ketika aku menikmati diam, aku tidak pernah sekalipun peduli pada langkah yang aku ambil. Aku kesana kemari, lalu terduduk, lalu kesana, lalu entah kemana lagi. Kau sering menggelengkan kepalamu ketika menemukan aku, ada kata lelah disitu dan kemudian kau hanya ikut terduduk disampingku. Aku mau pulang saat itu juga, kau tertawa gemas seolah betapa teganya aku tidak membiarkan jeda untuk istirahat. Aku mana sempat terfikir kesitu, yang aku tau akan ada yang membawaku pulang. Aku mau pulang. Lama berlari, melangkah, dan pergi kesana kemari membuatku ingin segera pulang. Lalu kau beranjak, kemudian mengulurkan tangan meraih jariku. “ Mari pulang,” katamu kemudian menggandeng lenganku dan membawanya pulang. Akhirnya aku pulang.

Berkali-kali kau marah karena aku sering pergi begitu saja, tidak pernah mau menetap pada satu tempat pada waktu yang lama. Aku nyengir. Kau menggerutu. Aku tertawa kecil. Kau ngomel besar. Aku diam. Kau meraih lenganku dan menariku didalam pelukanmu. Disitu kau berbisik betapa lelahnya mencariku yang sering menghilang, dan betapa kau begitu mempertanyakan mengapa bisa begitu mudahnya aku melangkah pergi, berlari. Aku diam. Ada helaan nafas seolah kau coba mengerti, lalu begitu saja melepaskanku. Aku pergi. Berlari-lari bersama diam yang kini adalah penghangatku. Kau diam saja tanpa mengejar. Aku berlari semakin jauh, tidak peduli bagaimana nanti aku akan kehabisan nafas. Anggap saja aku lupa rasanya bernafas. Aku berlari, terduduk lagi, dan lalu berlari lagi.

Nanti, kalau lelah datang aku tidak perlu takut karena kamu akan datang. Menemukanku lagi. Mengantarku pulang.
Kalau ternyata tidak datang?

Baiklah, anggap saja aku punah. Selesai.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Mohon Doanya... hehehe

Sedikit curhat...

Belum lama ini memutuskan untuk resign dari kerjaan untuk fokus sama hal lainnya ( mudah2an saja tercapai. aamiin.) dan sebenarnya bisa dibilang ini sebuah keputusan yang besar. Bagaimana tidak, melepaskan pekerjaan dan lingkungan yang sudah super asik adalah hal yang berat dan menyedihkan. Terlebih, melepaskan sesuatu yang sebenarnya bukan dengan tujuan pasti, hanya bermodal keyakinan bahwa terlepas akan membuat semakin fokus pada hal yang ingin kita capai. Semoga saja. Mungkin diawal terlihat sangat menyedihkan dan sangat hopeless, tapi balik lagi sama keyakinan dan percaya bahwa Insyaallah akan menemukan hal yang lebih baik lagi, dan intinya belajar lagi, daannnn semoga saja kali ini bisa mencapai hal yang benar-benar menyatu dengan hati tanpa lagi ada kata 'beban'. Semoga yang hadir setelah ini hanya ungkapkan " CAPE BUT I LOVE IT." AAMIINN.

Oke, lanjut saja... kalau ditanya kesibukan mungkin ini adalah jawaban dari kata yang seharusnya terungkap dengan kata " penyesalan" efek dari terlepas, but come on! this is life... I have my own decision dan apa yang terjadi dari akibat terlepas atau resign ya harus bisa diterima. Beberapa dari mereka mungkin menganggapnya manja, tapi ya memang agak manja kok. Alasan-alasan ringan sebenarnya yang membuat saya berkeyakinan untuk keluar dari kerjaan, tapi balik lagi bukankah alasan ringan yang bertumpuk adalah the real TROUBLE, jadi lebih baiklah saya memilih mundur. Konsekuensinya memang besar, jujur bukan masalah finansial yang jadi utama walaupun itu tetap jadi masalah, tapi lebih ke rasa malu karena akhirnya punya status PENGGANGGURAN ( ya, ini paling tidak enak didengar ), ada rasa seperti tidak bisa lagi membuat orangtua bangga, atau rasanya udah kayak orang yang enggak bisa ngapa-ngapain. Seriously, sometimes it makes me down so easily. Dan, terkadang ini membuat saya rasanya mau jauh saja dari semua orang yang saya kenal.

Semakin sensitif? tentu saja. Terlebih menanggapi orang-orang yang memandang sebelah mata tanpa mau mencari tahu, sudah muak banget denger pernyataan atau pertanyaan mereka. Biarlah. Hidup itu bener-bener kayak roda, dan posisi saya saat ini sedang enggak asik, tapi enggak berarti saya membencinya. Saya menerimanya, walaupun tentu saja dengan perlahan-lahan. Ada beban yang sebenarnya saya takut untuk dibawa, terlebih di lihat lagi apa yang mau fokuskan bukan hal yang biasa buat orang umum. Kebanyakan dari mereka berfikir saya suka main-main, dan tidak pernah mau menerima kenyataan. Kalau YA, bagaimana donk? terkadang saya memang suka bermain-main dan paling tidak suka menerima kenyataan pahit. Dan, ketika akhirnya saya memutuskan sesuatu, seringkali yang bermain adalah rasa keras kepala. Memang keras kepala itu kadang enggak asik, tapi kadang saya mikir juga kalau enggak keras kepala enggak ada yang namanya keinginan kuat. Ya, balik lagi... kalau enggak ada yang terima ya sudah, kan saya memang keras kepala.

Apa yang saya fokuskan? itu yang sering mereka tanya. Saya ingin fokus pada hal seni dan budaya. Bukan perkara mudah sebenarnya, apalagi kalau ditanya kedepannya mau jadi apa secara saya enggak punya keturunan seni atau bahkan bisa nari, nyanyi, atau main musik aja enggak bisa. See?? terlihat tidak meyakinkan sebenarnya. Tapi, intinya saya mau. Saya mau memperdalaminya. Bukan dalam hal apa-apa yang sudah saya sebutkan tadi, tapi benar-benar karena saya mau memperdalaminya. THAT'S IT. Dari seni dan budaya perlahan-lahan saya 'membaca' dan 'bercermin' bahwa ada  kehidupan dalam makna terdalamnya yang membuat saya merasa saya mau belajar tentang 'ini' jauh lebih dalam. Balik lagi keputusan berat, apalagi kalau orang-orang sok mau tahu itu mulai berpendapat. Terkadang, itu membuat saya lemah untuk minta doa agar dilancarkan sama tujuan saya ini, tapi saya memang nyatanya sangat butuh doa. Mungkin setidaknya dari tulisan ini saya berharap ada yang mendoakan saya.hehehe :)

Wah, sepertinya terbaca sekali betapa keras kepalanya saya. Biarin deh. Saya enggak minta apa-apa, tapi mungkin sedikit doa akan sangat membantu. Bukankah hidup adalah tentang kemauan? dan doa akan sangat membantu sekali. Mohon doanya biar impian saya 'memperdalam' bisa terwujud dan bisa saya kembangkan dengan lebih baik.
Mohon doanya supaya rasa keras kepala saya ini menghasilkan suatu yang baik.
Mohon doanya supaya selalu ada kebaikan dalam tujuan saya,
dan paling penting, mohon doanya....
Supaya saya, kamu, atau kami semua tidak mudah begitu saja menyerah.

Sekian cuap-cuap dari penulis galau yang mau curhat. Terimakasih