Kamis, 17 Januari 2013

Wayang Orang Ciptoning dan Salya Wiratama


Mari menonton wayang! yuuuuuukk..




Kali ini saya mau share tentang pengalaman saya waktu nonton wayang berjudul 'Ciptoning' di Monas, dan 'Salya Wiratama' di  teater TIM Jakarta. Jangan tanya serunya gimana, karena bagi saya ini seru banget!hehehe. Saya sendiri enggak ngerti kenapa makin kesini malah makin suka wayang, dan mencoba sebisanya untuk bisa nonton pementasan wayang orang. Pengetahuan wayang saya memang belom bagus-bagus amat, tapi lama-lama masih bisa berkembang bukan? Kalo yang saya dapet sampe saat ini sih, banyak banget hal positif yang bisa di dapetin dari membaca buku cerita tentang wayang dan menonton pertunjukan wayang langsung. Apa saja? coba sendiri;p

Oke, lanjut dengan hal yang mau saya share disini. Dua pagelaran wayang orang ini sama-sama berlangsung di malam hari ( rata-rata pertunjukan wayang diadakan malam ) sekitar pukul 08.00 atau 08.30, dan menonton dua-duanya itu GRATIS! woaa.. siapa coba yang gak seneng denger GRATIS nya itu??ahahaha. Karena biasanya setiap saya nonton wayang orang itu seringnya bayar, dan kali ini gratis. Jelas saya enggak mau melewatkan dan kebetulan sekali waktunya pas, jadi meluncurlah saya kesitu.

Sebelumnya saya pernah menonton pertunjukan wayang 'Ciptoning' yang pernah diadain di gedung pewayangan TMII dalam acara WOW festival, tapi itu sebentar banget dan tentu saja itu ngebuat saya kurang puas.hehehe. Nah, kebetulan banget di monas diadain pementasan dengan judul yang sama, dan dalam jangka waktu yang lebih lama ( kurang lebih 2 jam ), jadinya bisa lebih puas menikmati deh, ditambah saya juga ngefans sama beberapa pemain wayang orang. Disini jadi tambah lengkap deh pengetahuan saya tentang cerita 'Ciptoning' itu sendiri, dan kali ini suasananya juga kebetulan rame banget. Alhamdulillahnya saya duduk lumayan didepan, jadi dapet tempat yang pas buat melihat lebih dekat dan ngambil foto. YIP!



Enggak lama setelah pertunjukan 'Ciptong' di Monas, ada lagi pertunjukan 'Salya Wiratama' di teater TIM. Nah, saya juga bersyukur banget bisa nonton pertunjukan ini yang kebetulan bareng dua teman saya, sayangnya kemaren dapet posisi duduknya kurang enak ( di atas ), tapi tetep jadi tempat yang lumayan buat ambil foto kok. hehehe. Pertunjukan ini bisa di bilang super bagus! salut sama orang-orang WO Bharata Senen ( Oiya, yang di Monas juga digarap oleh Bharata loh!) yang udah mengadakan pertunjukan sekeren dan sebagus ini. Banyak banget hal-hal positif yang bisa kita dapetin dari menonton pertunjukan ini, khususnya tentang tokoh Salya yang awalnya saya anggap tokoh jahat "beneran", tapi ternyata berpihak di kurawa enggak selalu berarti dia itu bukan ksatria yang baik ( terbukalah mata saya.hahaha). Pokoknya pertunjukan wayang selalu punya pandangan luas untuk memaknai tokoh-tokohnya, dan itu enggak mudah loh, karena enggak bisa asal sembarangan :)




Ya! dua pertunjukan wayang ini emang keren dan bermakna banget. Saya emang enggak sebutkan secara utuh tentang makna-makna kehidupan yang saya dapet dari dua pertunjukan wayang orang di Jakarta ini ( masih sulit merangkai kata.hehe) tapi ya memang banyak banget yang bisa didapetin usai nonton wayang orang. Selain melestarikan budaya, banyak hal positif yang bisa didapet. Makanya, nonton yuk! ;)

Minggu, 23 Desember 2012

Obsesi

Manusia terlalu keras. Aku keras kepala.
Kadang tidak pernah terfikirkan bahwa obsesi bisa sangat menjatuhkan.
Aku hampir jatuh.
Keinginan kerasku membuatku berdiri dipinggir jurang.
Tinggal angin yang mampu memberi jawaban.
Aku menghela nafas ribuan kali.
Mau kembali tapi sulit.
Lagi-lagi karena keras kepala.
Karena obsesi.

Tertawa sajalah.
Hati menangis.
Impian seolah-olah menjadi jauh.
Yang aku pikir ada cahaya,
ternyata malah kabut putih.
Dimana cahayanya?
Tergantung dari aku  berlari.
Eh.
Aku salah.
Cahaya itu harus digali.
Berlari malah kadang menyesatkan.
Lagi-lagi tentang lelah.
Kesedihan pada malam terang bulan.
Tanpa bintang.

Hujan,hujan,hujan.
Kau pasti datang.
Cepatlah.
Tapi jangan jatuhkan aku ke jurang.
Kasih aku luapan air menggenang.
Agar aku berenang.
Melewati jurang.
Walau pastinya megap-megap.

Rabu, 21 November 2012

Dalam Hening Hati Srikandi



Sosok wanita dengan langkah tegaknya  maju kedepan telah siap untuk menghadapi peperangan. Ia sudah memastikan dirinya bergabung dalam perang bharatayudha untuk mendukung para Pandawa. Hatinya telah terpaut untuk Arjuna, dan itu yang memantapkannya untuk ikut berperang melawan keangkaraan murka. Perang ini harus terjadi, dan keberaniannya di coba disini. Panahnya sudah siap, dan iya yakin batinnya pun juga sudah siap untuk peperangan ini. Tak boleh lagi ada keraguan dalam hatinya, ini sudah menjadi keputusan hidupnya. Hidup dan mati adalah keputusan dari semua yang akan ia pertaruhkan nanti.

Tidak jauh darinya berdiri sosok Arjuna yang juga sedang dalam posisi siap. Wajahnya tampan, tenang, namun tegas. Srikandi menghela nafas melihat sosok itu, ada rasa rindu yang sebenarnya ingin ia ungkapkan namun waktu  yang belum menjadikannya tepat. Arjuna tak melihat dirinya, terlalu fokus untuk menghadapi perang dan mempersiapkan pasukan disekelilingnya. Dalam hati, Srikandi selalu bertanya-tanya, " Hei Arjuna, kekasihku... sungguh cintakah kau padaku? sedang aku tau banyak wanita disekelilingmu, adakah aku menjadi yang terindah dalam hidup dan pikiranmu?  Haruskah aku memanah mereka semua agar hanya aku yang menjadi satu-satunya? Rasanya terlalu egois dan tak sepadan. Aku mencintaimu Arjuna, pengabdianku telah kuserahkan untuk mendukung pandawa, terutama kau..." . Lalu Srikandi tertunduk sepi, matanya menatap tanah sembari mengontrol hatinya yang sulit teralihkan, Arjuna tetap menjadi dambaannya, junjungan dalam hidupnya, dan menjadi 'hidup'nya walaupun mata dan hati Arjuna tidak akan selalu menatap dirinya.

Genderang perang sudah dibunyikan, dan perang akan dimulai lagi. Entah sudah tak terhitung berapa lama mereka sudah menghadapi perang ini,dan harus berapa lama lagi akan berakhir. Tujuannya cuma satu dan itu kemenangan, pembuktian akan kebenaran, dan harga diri. Srikandi menyiapkan dirinya, memantapkan hatinya untuk tak berlama-lama berlarut pada pertanyaan cintanya pada Arjuna. Dipandangnya dengan tegas perang yang akan dihadapinya. Menegakan badannya untuk tak menoleh ke arah Arjuna dan terhanyut pada kerisauan hatinya. Dipejamkan matanya sebentar dan ditarik nafasnya dalam-dalam demi menenangkan hatinya. Dalam hati ia selalu berdoa untuk kemenangan ini dan Arjuna, " aku yakin kemenangan ini akan mejadi milik pandawa, dan semoga kau selalu diliputi lindungan untuk tetap selalu hidup dan menjadi pembelajaran yang baik untuk dunia ini. Aku berdoa untuk kebaikanmu wahai junjunganku." Kini mantap sudah Srikandi mempersiapkan dirinya dalam perang besar, menggebu-gebu hatinya untuk membantu  Pandawa memperebutkan kemenangan.

Ditumpasnya musuh yang ia hadapi, panahnya ikut membanjiri peperangan. Pertumpahan darah sudah tak terelakan, semuanya berseru pada peperangan, kata lelah tidak akan pernah berarti. Srikandi terus berlari kedepan sambil terus mengeluarkan panahnya, membiarkan takdir yang menentukan siapa yang terkena panahannya, atau siapa yang akan mengenai dirinya dengan panah atau senjata lainnya. Semangatnya masih bergejolak tinggi, ia yakin telah berada dalam pihak yang benar, dan matanya selalu awas menghadapi musuh. Hampir tak terkalahkan jiwa berani dan kehebatannnya, Srikandi menjadi wanita paling kuat dan kokoh dalam perang bharatayuda ini. Ditatapnya Bhisma dengan tegas, dan ia tau benar bahwa yang dihadapinya kini bukanlah ksatria biasa, Bhisma dikenal dengan kehebatannya dan ketenangannya dalam mengahadapi banyak hal. Namun Sriandi harus yakin, tak boleh lengah sedikitpun, dilihatnya lagi sekilas yang ada disekelilingnya dan sempat terkejut dengan keberadaan Arjuna yang ternyata tak berada jauh darinya. Tersenyum hatinya melihat sosok junjungannya itu, lalu cepat-cepat dimantapkan lagi hatinya untuk bertempur melawan Bhisma. " Arjuna... aku selalu siap berperang untukmu, pengabdianku tetap untukmu sebagai junjunganku." Setelah beberapa lama susah payah melawan Bhisma, akhirnya panah Srikandi tepat mengenai dada Bhisma dan menewaskannya saat itu juga.

Arjuna menatapnya. Dilihatnya kini Srikandi yang masih berdiri tegak usai menewaskan Bhisma, dan dengan anggun menghampiri Srikandi yang sebenarnya langsung terdiam. Siapa yang tak mengenal Bhisma? seorang Arjuna sungguh sangatlah mengenal sosok Bhisma yang sangat dihormatinya itu, tapi perang mengharuskannya mereka tampak seperti musuh. Di ajaknya Srikandi menghampiri jenasah Bhisma bersama dan menghormati kematian Bhisma dengann khidmat. Tak ada pandangan benci yang diberikan Arjuna untuk Srikandi, tatapannya masih lembut dan tenang walaupun Srikandi tahu bahwa hati Arjuna tentulah sangat sedih melihat sosok Bhisma tak lagi bernyawa. Perang telah menjadikan takdir Bhisma harus mati di tangan Srikandi, dan Arjuna jelas memahami itu. Mereka berdua berdoa dengan khidmat, dan Arjuna menata beberapa panahnya sebagai alas kepala jenasah Bhisma. Diberikannya senyum ketegaran kepada Srikandi. " Duhai junjunganku Arjuna, mengapa justru harus didepan kematian salah satu orang yang kau hormati yang membuatmu kini berada disampingku walau hanya sekejap. Tak lagi aku mampu berkata-kata, rasa sedih dan senang akan kerinduan semuanya benar-benar tercampur menjadi satu." Srikandi meratapi dirinya dalam kekosongan, dan kini harus rela membiarkan Arjuna berjalan ke arah lain untuk melanjutkan peperangan. Ditatapnya punggung Arjuna dengan pandangan sedihnya.

Srikandi cepat-cepat bangkit dari rasa sedihnya, masih ada peperangan yang harus ia hadapi dan ia sadar betul tak boleh ia terlarut lagi dalam gejolak rasa yang ada dihatinya. Ditegakannya lagi badannya, dipersiapkan busur dan panahnya dengan mantap, dan ia telah siap lagi untuk membaur dalam perang. Dikobarkannya semangat dalam dirinya, berseru ia dalam hati dan sudah mantap hatinya untuk tak pernah menyerah dalam perang ini. Srikandi selalu ingin menjadi  tangguh, dan ia mampu melawan ratusan prajurit dengan panahnya, kehebatannya sulit tertandingi dan tekadnya yang kuat adalah pelopor utama dari semua ketanggguhannnya. 

Perang Bharatyuda pun usai, namun takdir telah menentukan, dan tak ada yang mampu mengelak. Sehebat dan sekuat apapun Srikandi tak menjaminnya untuk hidup selamanya, akhirnya ia harus gugur di tangan Aswatama putera dari resi Durna justru setelah tidak ada ada lagi perang. Tidak ada penyesalan dalam hati Srikandi di detik-detik kematiannya, ia tersenyum bersyukur karena mati tidak sia-sia  usai bergabung dalam peperangan untuk membela yang benar dan mendukung junjungannya. Terbesit keindahan dalam kata-katanya sebelum akhirnya ia benar-benar tak bernyawa....

Duhai junjunganku...
tergolek lemah kini aku,
bersiap untuk terpisah darimu.
Aku selalu menyimpan hati untukmu,
hingga detik ini.
Kesunyianku sulit terbaca,
dan kerinduanku rapat tersimpan.
Tapi sungguh itu hanya untukmu.
Aku mencintaimu,
memilihmu menjadi junjunganku.
Maka dalam nafas terakhirku,
aku bahagia karena nafas ini
selalu ada cinta untukmu.
Ini bukti setiaku untukmu....


*mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan dalam cerita ini. Ini hanya gubahan dari pengarang yang mencoba menjadikannya berbeda. Kalau ada yang salah harap dimaklumi. Terimakasih.


Minggu, 11 November 2012

Wayang Orang Bharata - Tetap Eksis di Gemerlap kota Jakarta

Mungkin tak disangkal lagi bahwa hal-hal yang berbau budaya semakin menjauh dari jati diri masyarakat Indonesia, yang padahal hanya mereka sajalah yang mampu mempertahankan budaya itu sendiri. Budaya adalah milik mereka, tapi mengapa untuk menjaganya saja seperti enggan?






Mungkin sudah banyak yang tau tentang Gedung wayang orang Bharata Senen yang sekarang ini masih eksis mementaskan pertunjukan wayang orang hampir disetiap sabtu malam. Pementasannya bisa dibilang yang paling rutin dan yang paling bisa mengobati rasa rindu orang-orang pecinta wayang orang. Disini selalu disajikan pertunjukan-pertunjukan yang menawan dengan mengambil cerita-cerita dari kisah wayang tentunya (mahabharata/ramayana). Dari gedung wayang orang Bharata inilah kita seharusnya bangga bahwa masih ada yang mempertahankan budaya sebegitu kuatnya di tengah kota Jakarta yang bisa dibilang sudah sangat modern.




Wayang orang Bharata masih bisa dibilang klasik dilihat dari penggunaan bahasanya yang masih murni menggunakan bahasa jawa. Ini salah satu yang bisa dibilang sangat membanggakan dan paling mempesona. Bahasa tradisional inilah yang justru menambah 'rasa' dari wayang orang itu sendiri. Kita juga jadi mengenalnya sedikit lebih dalam, walaupun terkadang masih belum mampu mengerti arti seluruhnya dari penggunaan bahasa jawa ini, tapi justru ini yang paling menarik dan menantang. Tentulah tidak usah khawatir bagi orang-orang awam yang kurang mengerti bahasa jawa untuk mengetahui isi ceritanya, karena ada sinopsis digital berjalan tepat diatas panggung yang bisa membantu penonton mengerti inti ceritanya. Mudah bukan? dari sini bisa dipertegas bahwa tidak ada alasan untuk tidak mengenal salah satu budaya jawa ini kalau kita mau coba mengenalnya.





Bisa dilihat kan bahwa wayang orang bharata senen sangatlah kokoh berdiri tegak bertahan dalam gemerlap kerlap kerlip kota Jakarta. Ini yang patut di acungkan jempol, bagaimana tidak? ketika sudah banyak tempat hiburan yang buka dimalam hari dan sering ramai di malam minggu, gedung wayang orang bharata masih tetap bertahan dan salutnya lagi masih banyak penggemar setia wayang yang selalu hadir. Ini yang paling keren buat penggemar setia wayang orang bharata, mereka masih bisa menjaga apa yang seharusnya mereka  benar-benar jaga dan gak hanya di ucapannya aja. Salut deh! Kalo wayang orang bharata bisa mempertahankan budaya sebegitu kokohnya, gimana dengan kita sendiri? :)




*gambar didapat sewaktu pertunjukan wayang orang bharata berjudul "Gatot kaca Ngedan" (2012)

Selasa, 16 Oktober 2012

Maka jika aku memiliki kesempatan, aku masih ingin menjelajahi pulau jawa.
Bukan aku tak ingin pergi ke luar pulau atau ke tempat lain.
Tapi keindahan disini masih belum tersingkap semua olehku.
Dan setiap aku mendapati keindahan dipulau jawa.
Aku selalu terbungkam bisu.
Memang benar kata banyak orang.
Kau tak perlu jauh-jauh untuk melihat keindahan.
Tapi untuk mendapatkannnya...
Kau memang harus mencari :)

Jumat, 07 September 2012

'Back to Normal' itu aneh

Akhirnya kita mulai dapat berbincang-bincang lagi,
mulai membicarakan banyak hal yang dulu juga sering kita bicarakan.
Tertawa seperti biasa.
Aku baru benar-benar tau ini yang namanya kembali ke normal.
Ternyata rasanya aneh.
Dulu aku pernah berharap seperti ini,
tapi saat kesampaian, aku malah sedih.
Mungkin ini hanya awal dari rasanya kembali ke normal.
Yah.. mungkin memang harus begini.

Dulu aku terlalu bermain-main dengan waktu.
Saat akhirnya nyala terang itu hilang,
aku malah termangu sepi dalam gelap.
Untaian kata yang tersusun dimasa lalu,
sudah tak menjadi guna.
Semuanya hanya akan menjadi fosil,
yang mungkin atau tak mungkin terkuak.
Maka tersembunyilah fosil itu,
dalam endapan tanah terdalam.

Yang aku tahu,
semuanya butuh proses.
Ya, aku sangat membutuhkan pemahaman.
Proses bagaimanakah yang seharusnya?
Hanya waktu yang bisa menjawab.

Menjalani memang tak semudah bicara.
Pemikiran-pemikiran menjadi tak logis.
Haruskah ada yang namanya 'Back to Normal?'
Sedang itu membuatnya menjadi tidak rasional.
Lagi-lagi aku butuh waktu yang menjawab.
Lagi-lagi proses, lagi-lagi pandangan.
Aku menunggu.
Menunggu waktu.
Sedikit mensesalkan 'Back to Normal'.

Kamis, 06 September 2012

Haruskah Aku Terbang atau Menjejaki Bumi?



Nyatanya semuanya tidak semudah seperti apa yang dipikirkan. Saat aku sudah berlama-lama terduduk dan terbang di atas awan, akhirnya aku mulai menjajaki bumi, dan melangkah diatasnya. Semuanya terasa berbeda dan tak akan pernah ada yang sama. Tertawa pun menjadi sangat berbeda, dan segala kenangan seperti kembali dan menepuk pundakku. Aku tak ingin menoleh pada tepukan itu, tapi menahan rasa rindu akan masa lalu adalah sulit, dan itu membuatku menoleh, bahkan sampai membalikan badan. Aku sempat terdiam menatapnya, sedang peganganku hanya secangkir kopi yang isinya mau habis. Kali ini aku benar-benar terlarut, dan menyesali keputusanku turun dari awan untuk mencoba menjejaki bumi entah untuk keberapa kalinya.


Aku sedikit kekurangan nafas. Menyesali yang lalu adalah obat sesak nafas yang paling hebat, dan aku hanya butuh terbang untuk mencari nafas tambahan. Tapi kali ini 'mereka' menahanku. Rindu-rindu yang bergelombang seperti ombak besar telah menghanyutkanku, dan menarik seenaknya seolah aku harus ikut dengan mereka. Aku megap-megap dan tak mampu terbang lagi. Aku benar-benar terbawa arus, sedang kelihaian berenang tak akan berarti saat ombak sudah menerjang. Aku hanyut.


Begitu lama aku tenggelam dan berusaha untuk tak membuka mata pada air laut yang perih. Mencoba untuk naik ke permukaan sebisaku dengan mata terpejam. Tapi itu semua sia-sia. Aku harus membuka mata dan merasakan perihnya air laut masuk ke dalam mataku. Aku harus melihat ke atas, dan berusaha sebisaku mencapai permukaan dengan mata terbuka. Aku masih megap-megap. Bernafas yang benar masih sangat sulit, dan gelembung-gelembung air yang keluar dari mulutku sama sekali tak membantu, tapi aku yakin perlahan-lahan aku akan naik ke permukaan. Ya, cahaya itu sudah terlihat. Sinar matahari sudah masuk ke dalam air dan menyentuh kulitku. Aku pun sampai pada permukaan laut dan mendapati rakit kecil untuk kunaiki.


Namun, lagi-lagi aku di beri pilihan yang sulit. Haruskah aku mencari daratan, atau terbang lagi ke atas? sedang dua-duanya bisa mengeringkan tubuhku yang basah kuyup terkena air laut. Dengan cara yang kontras. Terbang menjauhi bumi dan bermain dengan mimpi, atau mencapai daratan yang jauh dan tanpa kejelasan tapi menjanjikan keindahan dan perubahan hebat?